Agen Casino 338A - Cerita Sex Nita Istri Teman Hypersex - Meskipun tinggal di Jakarta dan digaji besar, aku lebih suka tinggal
di perkampungan. Kosku berada di wilayah Jakarta Selatan dekat
perbatasan Tangerang. Lokasinya yang nyaman dan tenang, jau dari hiruk
pikuk kota, membuatku betah tinggal lama disini sejak tahun 2002. Sudah 7
tahun lebih aku belum pernah pindah.
Agen Casino 338A - Tetanggatetangga pun heran
mengapa aku betah tinggal disitu padahal ibu kostku terkenal orangnya
kolot dan masih memegang tradisi lama. Orangnyapun alim dan tidak suka
anak kostnya berbuat macammacam dan kalau ketahuan sudah pasti diusir
dari rumah kostnya. Rumah kostku 2 lantai yang disewakan hanya 5 kamar
dengan ukuran sedang dan kostnya baik untuk putra maupun putri, yang
masih single maupun yang sudah berkeluarga. Kamar mandi untuk anak kost
disedakan ada 2 didalam rumah 1 dan yang diluar juga ada.
Ibu
koskupun tinggal disitu cuman tinggal di kamar sebelah dalam bersama
anak semata wayangnya Mas Rano. Kejadian ini terjadi pada tahun 2005,
Rumah kost hanya terisi dua satu untukku dan sebelahnya lagi keluarga
Mas Tarno berasal dari Jogja. Mas Tarno usianya 2 tahun diatasku jadi
waktu itu sekitar 26 tahun. Istrinya bernama Nita seumuran denganku.
Nita orangnya manis putih tinggi sekitar 165 cm ukuran payudara sekitar
34an. Mereka sudah dikaruniai satu orang anak masih berumur 2 tahun
bernama Rara.
Mas Tarno orangnya penggangguran. Jadi untuk
keperluan, Nitalah yang bekerja dari pagi sampai malam di sebuah
Supermarket terkenal (supermarket ini sering dikenai sanksi oleh Komisi
Pengawas Persaingan Usaha lho!!!.hayo tebak siapa bisa..hahahaha.)
sebagai SPG sebuah produk susu untuk balita. Karena keperluannya yang
begitu banyak, Nita (menurut pengakuannya) sampai meminta pihak
manajemen untuk bisa bekerja 2 shift. Tentunya keluarga macam ini sering
cekcok. Nita mengganggap Mas Tarno orangnya pemalas bisanya hanya minta
duit untuk beli rokok. Padahal jerih payah Nita seharusnya untuk beli
susu buat Rara putrinya.
Mas Tarno pun sering membalas
omelanomelan Nita dengan tamparan dan tendangan bahkan dilakukan didepan
anaknya. Aku sendiri tidak betah melihat pertengkaran itu. Suatu saat,
Mas Tarno dapat pekerjaan sebagai ABK dan tentunya harus meninggalkan
keluarganya dalam waktu yang cukup lama. Nita senangnya bukan main
mendengarnya. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Pada malam
itu, aku ngobrol dengan Nita dikamarnya sambil nonton TV. Si Rara
mutermuter sambil bermain maklum umur segitu masih lucu cucunya.
Sekarang sepi ya, Nit.nggak ada Mas Tarno. kataku
Lebih baik gini, Ted. Enakan kalo Mas Tarno nggak ada. Keluh Nita kepadaku.
Emangnya Kenapa? tannyaku.
Mas Tarno tuh kerja nggak kerja tetep nyusahin. wajar khan kalo aku
minta duit ke Mas Tarno? Aku khan istrinya. Eh, Dianya marahmarah.
Besoknya aku diomelin juga ama ibu mertuaku. Katanya aku nggak boleh
minta duitnya dulu biar bisa buat nabung. Gombal!!! Aku nggak percaya
Mas Tarno bisa nabung!!! Dia jawab dengan marah marah.
Sabar ya
Aku mencoba untuk menenangkannya apalagi Rara dah minta bobo.
Seandainya
Mas Tedy yang jadi suamiku mungkin aku tidak akan merana. Mas Tedy dah
dapat pekerjaan tetap dan digaji besar sedangkan suamiku, Mas Tarno
hanya pekerja kasar di kapal itupun baru sebulan sebelumnya
penggangguran. Keluhnya.
Udahjangan berandai andai.biarkan hidup mengalir saja. Jawabku sekenanya.
Mas, .. Tibatiba Nita duduk disebelahku mengapit tangganku dan
menyandarkan kepalanya. Aku sungguh terkejut. Aku tahu Nita butuh kasih
sayang, butuh belaian, butuh perhatian. Bukan tendangan dan tamparan.
Aku balas dia dengan pelukan di bahunya. Sayang sekali Wanita semanis
Nita disiasiakan oleh lakilaki.
Tapi Aku juga lakilaki normal
punya nafsu terhadap wanita. Justru inilah kesempatanku untuk mengerjai
Nita apalagi ibu kostku menjengguk keluarganya di Surabaya selama
seminggu dan baru berangkat kemarin malam dan Mas Rano dapat jatah kerja
Shift malam di sebuah Mall. Yuhuyyyakhirnya kesempatan itu tiba!!!
Kutoleh Nita yang saat itu sedang memakai daster, tanpa basa basi aku
langsung merengkuh tubuh Nita yang montok itu kedalam pelukanku dan
langsung kucium bibirnya yang tipis itu. Nita memeluk tubuhku erat erat,
Nita sangat pandai memainkan lidahnya, terasa hangat sekali ketika
lidahnya menyelusup diantara bibirku.
Tanganku asyik meremas susu
Nita yang tidak seberapa besar tapi kencang, pentilnya kupelintir
membuat Nita memejamkan matanya karena geli. Dengan sigap aku menarik
daster Nita, dan seperti biasanya Nita sudah tak mengenakan apa apa
dibalik dasternya itu ternyata Nita memang sudah merencanakannya tanpa
sepengetahuanku. Tubuh Nita benar benar aduhai dan merangsang seleraku,
tubuhnya semampai, putih dengan susu yang pas dengan ukuran tubuhnya
ditambah nonok yang tak berambut mencembung.
Eh gimana kalo si Rara bangun? tanyaku.
Tenang aja Mas Tedy, Susu yang diminum Rara tadi dah aku campurin CTM. Jawabnya dengan gaya yang manja.
Benarbenar
persiapan yang sempurna. Ketika kubentangkan bibir nonoknya, itilnya
yang sebesar biji salak langsung menonjol keluar. ketika kusentuh dengan
lidahku, Nita langsung menjerit lirih. Aku langsung mencopot baju dan
celanaku sehingga penisku yang sepanjang 12 cm langsung mengangguk
angguk bebas. Ketika kudekatkan penisku ke wajah Nita, dengan sigap pula
Nita menggenggamnya dan kemudian mengulumnya. Kulihat bibir Nita yang
tebal itu sampai membentuk huruf O karena penisku yang berdiameter 3 cm
itu hampir seluruhnya memadati bibir mungilnya, Nita sepertinya sengaja
memamerkan kehebatan kulumannya, karena sambil mengulum penisku ia
berkali kali melirik kearahku.
Aku hanya dapat menyeringai
keenakan dengan servis Nita ini. Mungkin posisiku kurang tepat bagi Nita
yang sudah berbaring itu sementara aku sendiri masih berdiri
disampingnya, maka Nita melepaskan kulumannya dan menyuruhku berbaring
disebelahnya. Setelah aku berbaring dengan agak tergesa gesa Nita
merentangkan kedua kakiku dan mulai lagi menjilati bagian peka
disekeliling penisku, mulai dari pelirku, terus naik keatas sampai
keNitang kencingku semuanya dijilatinya, bahkan Nita dengan telaten
menjilati Nitang duburku yang membuat aku benar benar blingsatan.
Aku
hanya dapat meremas remas susu Nita serta merojok nonoknya dengan
jariku. Aku sudah tak tahan dengan kelihaian Nita ini, kusuruh dia
berhenti tetapi Nita tak memperdulikanku malahan ia makin lincah
mengeluar masukkan penisku kedalam mulutnya yang hangat itu. Tanpa dapat
dicegah lagi air maniku menyembur keluar yang disambut Nita dengan
pijatan pijatan lembut dibatang penisku seakan akan dia ingin memeras
air maniku agar keluar sampai tuntas. Ketika Nita merasa kalau air
maniku sudah habis keluar semua, dengan pelan pelan dia melepaskan
kulumannya, sambil tersenyum manis ia melirik kearahku.
Kulihat
ditepi bibirnya ada sisa air maniku yang masih menempel dibibirnya,
sementara yang lain rupanya sudah habis ditelan oleh Nita. Nita langsung
berbaring disampingku dan berbisik
Mas Tedy diam saja ya, biar saya yang memuaskan Mas !
Aku
tersenyum sambil menciumi bibirnya yang masih berlepotan air maniku
sendiri itu. Dengan tubuh telanjang bulat Nita mulai memijat badanku
yang memang jadi agak loyo juga setelah tegang untuk beberapa waktu itu,
pijatan Nita benar benar nyaman, apalagi ketika tangannya mulai
mengurut penisku yang setengah ngaceng itu, tanpa dihisap atau diapa
apakan, penisku ngaceng lagi, mungkin karena memang karena aku masih
kepengen main beberapa kali lagi maka nafsuku masih bergelora.
Aku
juga makin bernafsu melihat susu Nita yang pentilnya masih kaku itu,
apalagi ketika kuraba nonoknya ternyata itilnya juga masih membengkak
menandakan kalau Nita juga masih bernafsu hanya saja penampilannya
sungguh kalem . Melihat penisku yang sudah tegak itu, Nita langsung
mengangkangi aku dan menepatkan penisku diantara bibir nonoknya,
kemudian pelan pelan ia menurunkan pantatnya sehingga akhirnya penisku
habis ditelan nonoknya itu. Setelah penisku habis ditelan nonoknya, Nita
bukannya menaik turunkan pantatnya, dia justru memutar pantatnya pelan
pelan sambil sesekali ditekan, aku merasakan ujung penisku menyentuh
dinding empuk yang rupanya leher rahim Nita.
Setiap kali Nita
menekan pantatnya, aku menggelinjang menahan rasa geli yang sangat
terasa diujung penisku itu. Putaran pantat Nita membuktikan kalau Nita
memang jago bersetubuh, penisku rasanya seperti diremas remas sambil
sekaligus dihisap hisap oleh dinding nonok Nita. Hebatnya nonok Nita
sama sekali tidak becek, malahan terasa legit sekali, seolah olah Nita
sama sekali tak terangsang oleh permainan ini. Padahal aku yakin seyakin
yakinnya bahwa Nita juga sangat bernafsu, karena kulihat dari wajahnya
yang memerah, serta susu dan itilnya yang mengeras seperti batu itu. Aku
makin lama makin tak tahan dengan gerakan Nita itu, kudorong ia
kesamping sehingga aku dapat menindihinya tanpa perlu melepaskan jepitan
nonoknya.
Begitu posisiku sudah diatas, langsung kutarik penisku
dan kutekan sedalam dalamnya memasuki nonok Nita. Nita menggigit
bibirnya sambil memejamkan mata, kakinya diangkat tinggi tinggi serta
sekaligus dipentangnya pahanya lebar lebar sehingga penisku berhasil
masuk kebagian yang paling dalam dari nonok Nita. Rojokanku sudah mulai
tak teratur karena aku menahan rasa geli yang sudah memenuhi ujung
penisku, sementara Nita sendiri sudah merintih rintih sambil menggigiti
pundakku.
Mulutku menciumi susu Nita dan menghisap pentilnya yang
kaku itu, ketika Nita memintaku untuk menggigiti susunya, tanpa pikir
panjang aku mulai menggigit daging empuk itu dengan penuh gairah, Nita
makin keras merintih rintih, kepalaku yang menempel disusunya ditekan
keras keras membuatku tak bisa bernafas lagi, saat itulah tanpa permisi
lagi kurasakan nonok Nita mengejang dan menyemprotkan cairan hangat
membasahi seluruh batang penisku. Ketika aku mau menarik pantatku untuk
memompa nonoknya, Nita dengan keras menahan pantatku agar terus menusuk
bagian yang paling dalam dari nonoknya sementara pantatnya bergoyang
terus diatas ranjang merasakan sisa sisa kenikmatannya.
Dengan
suara agak gemetar merasakan kenikmatannya, Nita menanyaiku apakah aku
sudah keluar, ketika aku menggelengkan kepala, Nita menyuruhku mencabut
penisku. Ketika penisku kucabut, Nita langsung menjilati penisku
sehingga cairan lendir yang berkumpul disitu menjadi bersih. Penisku
saat itu warnanya sudah merah padam dengan gagahnya tegas keatas dengan
urat uratnya yang melingkar lingkar disekeliling batang penisnya. Nita
sesekali menjilati ujung penisku dan juga buah pelirku.
Ketika
Nita melihat penisku sudah bersih dari lendir yang membuat licin itu,
dia kembali menyuruhku memasukkan penisku, tetapi kali ini Nita yang
menuntun penisku bukannya keNitang nonoknya melainkan keNitang duburnya
yang sempit itu. Aku menggigit bibirku merasakan sempit serta hangatnya
Nitang dubur Nita, ketika penisku sudah menyelusup masuk sampai
kepangkalnya, Nita menyuruhku memaju mundurkan penisku, aku mulai
menggerakkan penisku pelan pelan sekali. Kurasakan betapa ketatnya
dinding dubur Nita menjepit batang penisku itu, terasa menjalar
diseluruh batangnya bahkan terus menjalar sampai keujung kakiku.
Benar
benar rasa nikmat yang luar biasa, baru beberapa kali aku menggerakkan
penisku, aku menghentikannya karena aku kuatir kalau air maniku
memancar, rasanya sayang sekali jika kenikmatan itu harus segera lenyap.
Nita menggigit pundakku ketika aku menghentikan gerakanku itu, ia
mendesah minta agar aku meneruskan permainanku. Setelah kurasa agak
tenang, aku mulai lagi menggerakkan penisku menyelusuri dinding dubur
Nita itu, dasar sudah lama menahan rasa geli, tanpa dikomando lagi air
maniku tiba tiba memancar dengan derasnya, aku melenguh keras sekali
sementara Nita juga mencengkeram pundakku. Aku jadi loyo setelah dua
kali memuntahkan air mani yang aku yakin pasti sangat banyak.
Tanpa
tenaga lagi aku terguling disamping tubuh Nita, kulihat penisku yang
masih setengah ngaceng itu berkilat oleh lendir yang membasahinya. Nita
langsung bangun dari tempat tidur, dengan telanjang bulat ia keluar
mengambil air dan dibersihkannya penisku itu, aku tahu kali ini dia tak
mau membersihkannya dengan lidah karena mungkin dia kuatir kalau ada
kotorannya yang melekat. Setelah itu, disuruhnya aku telungkup agar
memudahkan dia memijatku, aku jadi tertidur, disamping karena memang
lelah, pijatan Nita benar benar enak, sambil memijat sesekali dia
menggigiti punggungku dan pantatku. Aku benar benar puas menghadapi
perempuan satu ini. Aku tertidur cukup lama, ketika terbangun badanku
terasa segar sekali, karena selama aku tidur tadi Nita terus memijit
tubuhku.
Ketika aku membalikkan tubuhku, ternyata Nita masih saja
telanjang bulat, penisku mulai ngaceng lagi melihat tubuh Nita yang
sintal itu, tanganku meraih susunya dan kuremas dengan penuh gairah,
Nitapun mulai meremas remas penisku yang tegang itu.
Yuk kita ke kamar mandi ajakku
Sapa takut..
Aku
menarik tangan Nita keluar kamar sambil bugil tapi aku sempatkan
menyambar 2 buah handuk kemudian berjalan mengendap masuk , takut
ketahuan tetangga sebelah rumah dan mengunci pintu kamar mandinya dari
dalam. Nitkamu seksi banget.. desisku sambil lebih mendekatinya, dan
langsung mencium bibirnya yang ranum. Nita membalas ciumanku dengan
penuh gairah, dan aku mendorong tubuhnya ke dinding kamar mandi.
Tanganku membekap dadanya dan memainkan putingnya. Nita mendesah pelan.
Ia menciumku makin dalam.
Kujilati putingnya yang mengeras dan ia
melenguh nikmat. Aku ingat, pacarku paling suka kalau aku berlamalama di
putingnya. Tapi kali ini tidak ada waktu, karena sudah menjelang pagi.
Nita mengusap biji pelirku. Kunaikan tubuh Nita ke bak mandi. Kuciumi
perutnya dan kubuka pahanya. Bulu kemaluannya rapi sekali. Kujilati
liangnya dengan nikmat, sudah sangat basah sekali. ia mengelinjang dan
kulihat dari cermin, ia meraba putingnya sendiri, dan memilin milinnya
dengan kuat. Kumasukan dua jari tanganku ke dalam liangnya, dan ia
menjerit tertahan.
Ia
tersenyum padaku, tampak sangat menyukai apa yg kulakukan. Jari
telunjuk dan tengahku menyoloknyolok ke dalam liangnya, dan jempolku
merabaraba kasar klitorisnya. Ia makin membuka pahanya, membiarkan aku
melakukan dengan leluasa. Semakin aku cepat menggosok klitorisnya,
semakin keras desahannya. Sampaisampai aku khawatir akan tetangga
sebelah rumah dengar karena dinding kamar mandi bersebelahan tepat
dengan dinding rumha tetangga. Lalu tibatiba ia meraih kepalaku, dan
seperti menyuruhku menjilati liangnya.
Ahhhahhh.Mas
Arghhhh..uhhh.Maaasss. ia mendesahdesah girang ketika lidahku menekan
klitorisnya kuat2. Dan jari jariku makin mengocok liangnya. Semenit
kemudian, Nita benarbenar orgasme, dan membuat mulutku basah kuyub
dengan cairannya. Ia tersenyum lalu mengambil jari2ku yang basah dan
menjilatinya sendiri dengan nikmat. Ia lalu mendorongku duduk di atas
toilet yg tertutup, Ia duduk bersimpuh dan mengulum penisku yang belum
tegak benar. Jarijarinya dengan lihay mengusapngusap bijiku dan sesekali
menjilatnya. Baru sebentar saja, aku merasa akan keluar.
Jilatan
dan isapannya sangat kuat, memberikan sensasi aneh antara ngilu dan
nikmat. Nita melepaskan pagutannya, dan langsung duduk di atas
pangkuanku. Ia bergerak gerak sendiri mengocok penisku dengan penuh
gairah. Dadanya naik turun dengan cepat, dan sesekali kucubit putingnya
dengan keras. Ia tampak sangat menyukai sedikit kekerasan. Maka dari
itu, aku memutuskan untuk berdiri dan mengangkat tubuhnya sehingga
sekarang posisiku berdiri, dengan kakinya melingkar di pinggangku.
Kupegang pantatnya yang berisi dan mulai kukocok dengan kasar. Nita
tampak sangat menyukainya.
Ia mendesahdesah tertahan dan mendorong
kepalaku ke dadanya. Karena gemas, kugigit dengan agak keras putingnya.
Ia melenguh , Ohgitu Mas..gigit seperti ituaghhh Kugigit dengan lebih
keras puting kirinya, dan kurasakan asin sedikit di lidahku. Tapi
tampaknya Nita makin terangsang.Penisku terus memompa liangnya dengan
cepat, dan kurasakan liangnya semakin menyempit Penisku keluar masuk
liangnya dengan lebih cepat, dan tibatiba mata Nita merem melek, dan ia
semakin menggila, lenguhan dan desahannya semakin kencang hingga aku
harus menutup mulutnya dengan sebelah tangannku. Ah MaassEhmm
ArghhArghhh Ohhhhh uhhhhhh Nita orgasme untuk kesekian kalinya dan
terkulai ke bahuku.
Karena aku masih belum keluar, aku mencabut
penisku dari liangnya yang banjir cairannya, dan membalikan tubuhnya
menghadap toilet. Biasa kalau habis minum staminaku memang suka lebih
gila. Nita tampak mengerti maksudku, ia menunggingkan pantatnya, dan
langsung kutusuk penisku ke liangnya dari belakang. Ia mengeram senang,
dan aku bisa melihat seluruh tubuhnya dari cermin di depan kami. Ia
tampak terangsang, seksi dan acak acakan. Aku mulai memompa liangnya
dengan pelan, lalu makin cepat, dan tangan kiriku meraih puting
payudaranya, dan memilinnya dengan kasar, sementara tangan kananku
sesekali menepuk keras pantatnya.
Penisku makin cepat menusuk2
liangnya yang semakin lama semakin terasa licin. Tanganku
berpindahpindah, kadang mengusap ngusap klitorisnya dengan cepat. Badan
Nita naik turun sesuai irama kocokanku, dan penisku semakin tegang dan
terus menghantam liangnya dari belakang. Ia mau orgasme lagi, rupanya,
karena wajahnya menegang dan ia mengarahkan tanganku mengusap
klitorisnya dengan lebih cepat. Penisku terasa makin becek oleh cairan
liangnya.
Nita..aku juga mau keluar nih. oh tahan dulukasih aku.penismu.tahan!!!!
Nita langsung membalikan tubuhnya, dan mencaplok penisku dengan rakus.
Ia
mengulumnya naik turun dengan cepat seperti permen, dan dalam itungan
detik, menyemprotlah cairan maniku ke dalam mulutnya. ArGGGhhhh!! Oh yes
!! erangku tertahan. Nita menyedot penisku dengan nikmat, menyisakan
sedikit rasa ngilu pada ujung penisku, tapi ia tidak peduli, tangan
kirinya menekan pelirku dan kanannya mengocok penisku dengan gerakan
makin pelan. Kakiku lemas dan aku terduduk di kursi toilet yg tertutup.
Nita
berlutut dan menjilati seluruh penisku dengan rakus. Setelah Nita
menjilat bersih penisku, ia memakaikan handukku, lalu memakai handuknya
sendiri. Ia memberi isyarat agar aku tidak bersuara, lalu perlahan lahan
membuka pintu kamar mandi. Setelah yakin aman, ia keluar dan aku
mengikutinya dari belakang. Setelah kejadian itu aku sama Nita semakin
gila gilaan dalam bermain seks sampai dengan ibu kosku kembali dari
Surabaya tentunya aku hanya bisa melakukannya di malam hari.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar