Agen Joker123 Terbaik - Cerita Sex 2 Suster Kesayanganmu - Peristiwa ini terjadi awal April 1990 yang lalu pada waktu penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD) sedang mewabah. Nah, waktu itu aku juga
terkena penyakit DBD tersebut.
Agen Joker123 Terbaik - Pagi itu, setelah bangun tidur, aku
merasa pusing sekali, suhu tubuh tinggi dan pegalpegal di sekujur
tubuh. Padahal kemarin siangnya, aku masih bisa mengemudikan mobilku
seperti biasa, tanpa ada gangguan apaapa. Keesokan sorenya, karena
kondisi tubuhku semakin memburuk, akhirnya aku pergi ke UGD sebuah rumah
sakit terkenal di Jakarta.
Ketika aku periksa darah di
laboratorium klinik di rumah sakit tersebut, ternyata hasilnya
trombositku turun jauh menjadi hampir separuh trombosit yang normal.
Akhirnya karena aku tidak mau menanggung resiko, sore itu juga aku
terpaksa harus rawat inap alias diopname di rumah sakit tersebut.
Aku
memperoleh kamar di kelas 1. Itu pun satusatunya kamar yang masih
tersedia di rumah sakit tersebut. Kamarkamar lainnya sudah penuh terisi
pasien, yang sebagian besar di antaranya juga menderita DBD sepertiku.
Di kamar itu, ada 2 tempat tidur, satu milikku dan satunya lagi untuk
seorang pasien lagi, tentu saja cowok juga dong. Kalau cewek sih bakal
jadi huruhara tuh! Dari hasil ngobrolngobrol aku dengannya, ketahuan
bahwa dia sakit gejala tifus.
Akhirnya, aku menghabiskan malam itu
berbaring di rumah sakit. Perasaanku bosan sekali. Padahal aku baru
beberapa jam saja di situ. Tapi untung saja, teman sekamarku senang
sekali mengobrol. Jadi tidak terasa, tahutahu jam sudah menunjukkan
pukul sebelas malam. Di samping mata sudah mengantuk, juga kami berdua
ditegur oleh seorang suster dan dinasehati supaya istirahat. Aku dan
teman baruku itu tidur.
Saking nyenyaknya aku tidur, aku terkejut
pada saat dibangunkan oleh seorang suster. Gila! Suster yang satu ini
cantik sekali, sekalipun tubuhnya sedikit gempal tapi kencang. Aku tidak
percaya kalau yang di depanku itu suster. Aku langsung mengucekngucek
mataku. Ih, benar! aku tak bermimpi! aku sempat membaca name tag di
dadanya yang sayangnya tidak begitu membusung, namanya Gina (bukan nama
sebenarnya).
Mas, sudah pagi. Sudah waktunya bangun kata Suster Gina.
Ngggdengan sedikit rasa segan akhirnya aku bangun juga sekalipun mata masih terasa berat.
Sekarang sudah tiba saatnya mandi, Mas kata Suster Gina lagi.
Oh ya. Suster, saya pinjam handuknya deh. Saya mau mandi di kamar mandi
Lho, kan Mas sementara belum boleh bangun dulu dari tempat tidur sama dokter
Jadi?
Jadi Mas saya yang mandiin
Dimandiin? Wah, asyik juga kayaknya sih. Terakhir aku dimandikan waktu aku masih kecil oleh mamaku.
Setelah
menutup tirai putih yang mengelilingi tempat tidurku, Suster Gina
menyiapkan dua buah baskom plastik berisi air hangat. Kemudian ada lagi
gelas plastik berisi air hangat pula untuk gosok gigi dan sebuah mangkok
plastik kecil sebagai tempat pembuangannya. Pertamatama kali, suster
yang cantik itu memintaku gosok gigi terlebih dahulu.
Oke,
sekarang Mas buka kaosnya dan berbaring deh kata Suster Gina lagi sambil
membantuku melepaskan kaos yang kupakai tanpa mengganggu selang infus
yang dihubungkan ke pergelangan tanganku.
Lalu aku berbaring di tempat tidur. Suster Gina menggelar selembar handuk di atas pahaku.
Dengan
semacam sarung tangan yang terbuat dari bahan handuk, Suster Gina mulai
menyabuni tubuhku dengan sabun yang kubawa dari rumah. Ah, terasa suatu
perasaan aneh menjalari tubuhku saat tangannya yang lembut tengah
menyabuni dadaku. Ketika tangan Suster Gina mulai turun ke perutku, aku
merasakan gerakan di selangkanganku. Astaga! Ternyata batang kemaluanku
menegang! Aku sudah takut saja kalaukalau Suster Gina melihat hal ini.
Uh, untung saja, tampaknya dia tidak mengetahuinya.
Rupanya aku
mulai terangsang karena sapuan tangan Suster Gina yang masih menyabuni
perutku. Kemudian aku dimintanya berbalik badan, lalu Suster Gina mulai
menyabuni punggungku, membuat kemaluanku semakin mengeras. Akhirnya,
siksaan (atau kenikmatan) itu pun usai sudah. Suster Gina mengeringkan
tubuhku dengan handuk setelah sebelumnya membersihkan sabun yang
menyelimuti tubuhku itu dengan air hangat.
Nah, sekarang coba Mas buka celananya. Saya mau mandiin kaki Mas
Tapi, Susteraku mencoba membantahnya.
Celaka pikirku.
Kalau sampai celanaku dibuka terus Suster Gina melihat tegangnya batang kemaluanku, mau ditaruh di mana wajahku ini.
Nggak apaapa kok, Mas. Jangan malumalu. Saya sudah biasa mandiin pasien. Nggak lakilaki, nggak perempuan, semuanya
Akhirnya
dengan ditutupi hanya selembar handuk di selangkanganku, aku melepaskan
celana pendek dan celana dalamku. Ini membuat batang kemaluanku tampak
semakin menonjol di balik handuk tersebut. Kacau, aku melihat perubahan
di wajah Suster Gina melihat tonjolan itu. Wajahku jadi memerah
dibuatnya. Suster Gina kelihatannya sejenak tertegun menyaksikan
ketegangan batang kemaluanku yang semakin lama semakin parah. Aku
menjadi bertambah salah tingkah, sampai Suster Gina kembali akan
menyabuni tubuhku bagian bawah.
Suster Gina menelusupkan tangannya
yang memakai sarung tangan berlumuran sabun ke balik handuk yang
menutupi selangkanganku. Mulamula ia menyabuni bagian bawah perutku dan
sekeliling kemaluanku. Tibatiba tangannya dengan tidak sengaja
menyenggol batang kemaluanku yang langsung saja bertambah berdiri
mengeras. Sekonyongkonyong tangan Suster Gina memegang kemaluanku cukup
kencang. Kulihat senyum penuh arti di wajahnya.
Aku mulai
menggerinjalgerinjal saat Suster Gina mulai menggesekgesekkan tangannya
yang halus naik turun di sekujur batang kejantananku. Makin lama makin
cepat. Sementara mataku membelalak seperti kerasukan setan. Batang
kemaluanku yang memang berukuran cukup panjang dan cukup besar
diameternya masih dipermainkan Suster Gina dengan tangannya.
Akibat
nafsu yang mulai menggerayangiku, tanganku menggapaigapai ke arah dada
Suster Gina. Seperti mengetahui apa maksudku, Suster Gina mendekatkan
dadanya ke tanganku. Ouh, terasa nikmatnya tanganku meremasremas
payudara Suster Gina yang lembut dan kenyal itu. Memang, payudaranya
berukuran kecil, kutaksir hanya 32. Tapi memang yang namanya payudara
wanita, bagaimanapun kecilnya, tetap membangkitkan nafsu birahi siapa
saja yang menjamahnya.
Sementara itu Suster Gina dengan tubuh yang
sedikit bergetar karena remasanremasan tanganku pada payudaranya, masih
asyik mengocokngocok kemaluanku. Sampai akhirnya aku merasakan sudah
hampir mencapai klimaks. Air maniku, kurasakan sudah hampir tersembur
keluar dari dalam kemaluanku. Tapi dengan sengaja, Suster Gina
menghentikan permainannya. Aku menarik nafas, sedikit jengkel akibat
klimaksku yang menjadi tertunda. Namun Suster Gina malah tersenyum
manis. Ini sedikit menghilangkan kedongkolanku itu.
Tahutahu,
ditariknya handuk yang menutupi selangkanganku, membuat batang
kemaluanku yang sudah tinggi menjulang itu terpampang dengan bebasnya
tanpa ditutupi oleh selembar benang pun. Tak lama kemudian, batang
kemaluanku mulai dilahap oleh Suster Gina. Mulutnya yang mungil itu
seperti karet mampu mengulum hampir seluruh batang kemaluanku, membuatku
seakanakan terlempar ke langit ketujuh merasakan kenikmatan yang tiada
taranya. Dengan ganasnya, mulut Suster Gina menyedoti kemaluanku,
seakanakan ingin menelan habis seluruh isi kemaluanku tersebut. Tubuhku
terguncangguncang dibuatnya. Dan suster nan rupawan itu masih menyedot
dan menghisap alat vitalku tersebut.
Belum puas di situ, Suster
Gina mulai menaikturunkan kepalanya, membuat kemaluanku hampir keluar
setengahnya dari dalam mulutnya, tetapi kemudian masuk lagi. Begitu
terus berulangulang dan bertambah cepat. Gesekangesekan yang terjadi
antara permukaan kemaluanku dengan dinding mulut Suster Gina membuatku
hampir mencapai klimaks untuk kedua kalinya. Apalagi ditambah dengan
permainan mulut Suster Gina yang semakin bertambah ganasnya. Beberapa
kali aku mendesahdesah. Namun sekali lagi, Suster Gina berhenti lagi
sambil tersenyum. Aku hanya keheranan, mendugaduga, apa yang akan
dilakukannya.
Aku terkejut ketika melihat Suster Gina sepertinya
akan berjalan menjauhi tempat tidurku. Tetapi seperti sedang menggoda,
ia menoleh ke arahku. Ia menarik ujung rok perawatnya ke atas lalu
melepaskan celana dalam krem yang dipakainya. Melihat kedua gumpalan
pantatnya yang tidak begitu besar namun membulat mulut dan kencang,
membuatku menelan air liur. Kemudian ia membalikkan tubuhnya
menghadapku. Di bawah perutnya yang kencang, tanpa lipatanlipatan lemak
sedikitpun, walaupun tubuhnya agak gempal, kulihat liang kemaluannya
yang masih sempit dikelilingi bulubulu halus yang cukup lebat dan tampak
menyegarkan.
Tidak kusangkasangka, tibatiba Suster Gina naik ke
atas tempat tidur dan berjongkok mengangkangi selangkanganku. Lalu
tangannya kembali memegang batang kemaluanku dan membimbingnya ke arah
liang kemaluannya. Setelah merasa pas, ia menurunkan pantatnya, sehingga
batang kemaluanku amblas sampai pangkal ke dalam liang kemaluannya.
Mulamula sedikit tersendatsendat karena begitu sempitnya liang
kenikmatan Suster Gina. Tapi seiring dengan cairan bening yang semakin
banyak membasahi dinding lubang kemaluan tersebut, batang kemaluanku
menjadi mudah masuk semua ke dalamnya.
Tanganku mulai membuka
kancing baju Suster Gina. Setelah kutanggalkan bra yang dikenakannya,
menyembullah keluar payudaranya yang kecil tapi membulat itu dengan
puting susunya yang cukup tinggi dan mengeras. Dengan senangnya, aku
meremasremas payudaranya yang kenyal. Puting susunya pun tak ketinggalan
kujamah. Suster Gina menggerinjalgerinjal sebentarsebentar ketika ibu
jari dan jari telunjukku memuntirmuntir serta mencubitcubit puting
susunya yang begitu menggiurkan.
Dibarengi dengan gerakan memutar,
Suster Gina menaikturunkan pantatnya yang ramping itu di atas
selangkanganku. Batang kemaluanku masuk keluar dengan nikmatnya di dalam
lubang kemaluannya yang berdenyutdenyut dan bertambah basah itu. Batang
kemaluanku dijepit oleh dinding kemaluan Suster Gina yang terus
membiarkan batang kemaluanku dengan tempo yang semakin cepat menghujam
ke dalamnya. Bertambah cepat bertambah nikmatnya gesekangesekan yang
terjadi. Akhirnya untuk ketiga kalinya aku sudah menuju klimaks sebentar
lagi. Aku sedikit khawatir kalaukalau klimaksku itu tertunda lagi.
Akan
tetapi kali ini, kelihatannya Suster Gina tidak mau membuatku kecewa.
Begitu merasakan kemaluanku mulai berdenyutdenyut kencang, secepat kilat
ia melepaskan batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluannya dan
pindah ke dalam mulutnya. Klimaksku bertambah cepat datangnya karena
kulumankuluman mulut sang suster cantik yang begitu buasnya. Dan Crot
crot crotbeberapa kali air maniku muncrat di dalam mulut Suster Gina dan
sebagian melelehi buah zakarku. Seperti orang kehausan, Suster Gina
menelan hampir semua cairan kenikmatanku, lalu menjilati sisanya yang
belepotan di sekitar kemaluanku sampai bersih.
Tibatiba tirai
tersibak. Aku dan Suster Gina menoleh kaget. Suster Dera yang tadi
memandikan teman sekamarku masuk ke dalam. Ia sejenak melongo melihat
apa yang kami lakukan berdua. Namun sebentar kemudian tampaknya ia
menjadi maklum atas apa yang terjadi dan malah menghampiri tempat
tidurku. Dengan raut wajah memohon, ia memandangi Suster Gina. Suster
Gina paham apa niat Suster Dera. Ia langsung meloncat turun dari atas
tempat tidur dan menutup tirai kembali.
Suster Dera yang berwajah
manis, meskipun tidak secantik Suster Gina, sekarang gantian menjilati
seluruh permukaan batang kemaluanku. Kemudian, batang kemaluanku yang
sudah mulai tegang kembali disergap mulutnya. Untuk kedua kalinya,
batang kemaluanku yang kelihatan menantang setiap wanita yang
melihatnya, menjadi korban lumatan. Kali ini mulut Suster Dera yang tak
kalah ganasnya dengan Suster Gina, mulai menyedotnyedot kemaluanku.
Sementara jari telunjuknya disodokkan satu ruas ke dalam lubang anusku.
Sedikit sakit memang, tapi aduhai nikmatnya.
Merasa puas dengan
lahapannya pada kemaluanku. Suster Dera kembali berdiri. Tangannya
membukai satupersatu kancing baju perawat yang dikenakannya, sehingga ia
tinggal memakai bra dan celana dalamnya. Aku tidak menyangka, Suster
Dera yang bertubuh ramping itu memiliki payudara yang jauh lebih besar
daripada milik Suster Gina, sekitar 36 ukurannya. Payudara yang
sedemikian montoknya itu seakanakan mau melompat keluar dari dalam
branya yang bermodel konvensional itu.
Sekalipun bukan termasuk
payudara terbesar yang pernah kulihat, tapi payudara Suster Dera itu
menurutku termasuk payudara yang paling indah. Menyadari aku yang terus
melotot memandangi payudaranya, Suster Dera membuka tali pengikat
branya. Benar, payudaranya yang besar menjuntai montok di dadanya yang
putih dan mulus. Rasarasanya ingin aku menikmati payudara itu.
Tetapi
tampaknya keinginan itu tidak terkabul. Setelah melepas celana
dalamnya, seperti yang telah dilakukan oleh Suster Gina, Suster Dera,
dengan telanjang bulat naik ke atas tempat tidurku lalu mengarahkan
batang kemaluanku ke liang kemaluannya yang sedikit lebih lebar dari
Suster Gina namun memiliki bulubulu yang tidak begitu lebat. Akhirnya
untuk kedua kalinya batang kemaluanku tenggelam ke dalam kemaluan
wanita.
Memang, batang kemaluanku lebih leluasa memasuki liang
kemaluan Suster Dera daripada kemaluan Suster Gina tadi. Seperti Suster
Gina, Suster Dera juga mulai menaikturunkan pantatnya dan membuat
kemaluanku sempat mencelat keluar dari dalam liang kemaluannya namun
langsung dimasukkannya lagi.
Tak tahan menganggur, mulut Suster
Gina mulai merambah payudara rekan kerjanya. Lidahnya yang menjulurjulur
bagai lidah ular menjilati kedua puting susu Suster Dera yang walaupun
tinggi mengeras tapi tidak setinggi puting susunya sendiri. Aku melihat,
Suster Dera memejamkan matanya, menikmati senggama yang serasa
membawanya terbang ke awangawang. Ia sedang meresapi kenikmatan yang
datang dari dua arah. Dari bawah, dari kemaluannya yang terusmenerus
masih dihujam batang kemaluanku, dan dari bagian atas, dari payudaranya
yang juga masih asyik dilumat mulut temannya.
Tibatiba tirai
tersibak lagi. Namun ketiga makhluk hidup yang sedang terbawa nafsu
birahi yang amat membulakbulak tidak mengindahkannya. Ternyata yang
masuk adalah teman sekamarku dengan keadaan bugil. Karena ia merasa
terangsang juga, ia sepertinya melupakan gejala tifus yang dideritanya.
Setelah menutup tirai, ia menghampiri Suster Gina dari belakang. Suster
Gina sedikit terhenyak ke depan sewaktu kemaluannya yang dari tadi
terbuka lebar ditusuk batang kejantanan teman sekamarku dari belakang,
dan ia melepaskan mulutnya dari payudara Suster Dera.
Kemudian
dengan entengnya, sambil terus menyetubuhi Suster Gina, teman sekamarku
itu mengangkat tubuh suster bahenol itu ke luar tirai dan pergi ke
tempat tidurnya sendiri. Sejak saat itu aku tidak mengetahui lagi apa
yang terjadi antara dia dengan Suster Gina. Yang kudengar hanyalah
desahandesahan dan suara nafas yang terengahengah dari dua insan
berlainan jenis dari balik tirai, di sampingku sendiri masih tenggelam
dalam kenikmatan permainan seksku dengan Suster Dera.
Batang
kemaluanku masih menjelajahi dengan bebasnya di dalam lubang kemaluan
Suster Dera yang semakin cepat memutarmutar dan menggerakgerakan
pantatnya ke atas dan ke bawah. Tak lama kemudian, kami berdua
mengejang.
Suster Saya mau keluarkataku terengahengah.
Ah Keluarin di dalam saja Masjawab Suster Dera.
Akhirnya
dengan gerinjalan keras, air maniku berpadu dengan cairan kenikmatan
Suster Dera di dalam lubang kemaluannya. Saking lelahnya, Suster Dera
jatuh terduduk di atas selangkanganku dengan batang kemaluanku masih
menancap di dalam lubang kemaluannya. Kami samasama tertawa puas.
Sementara
dari balik tirai masih terdengar suara kenikmatan sepasang makhluk yang
tengah asyikasyiknya memadu kasih tanpa mempedulikan sekelilingnya.
Tepat
seminggu kemudian, aku sudah dinyatakan sembuh dari DBD yang kuderita
dan diperbolehkan pulang. Ini membuatku menyesal, merasa akan kehilangan
dua orang suster yang telah memberikan kenikmatan tiada tandingannya
kepadaku beberapa kali.
Hari ini aku sedang sendirian di rumah dan sedang asyik membaca majalah Gatra yang baru aku beli di tukang majalah dekat rumah.
Ting tongBel pintu rumahku dipencet orang.
Aku
membuka pintu. Astaga! Ternyata yang ada di balik pintu adalah dua
orang gadis rupawan yang selama ini aku idamidamkan, Suster Gina dan
Suster Dera. Kedua makhluk cantik ini samasama mengenakan kaos oblong,
membuat lekuklekuk tubuh mereka berdua yang memang indah menjadi
bertambah molek lagi dengan payudara mereka yang meskipun beda
ukurannya, namun samasama membulat dan kencang.
Sementara Suster
Gina dengan celana jeansnya yang ketat, membuat pantatnya yang montok
semakin menggairahkan, di samping Suster Dera yang mengenakan rok mini
beberapa sentimeter di atas lutut sehingga memamerkan pahanya yang putih
dan mulus tanpa noda.
Keduaduanya menjadi pemandangan sedap yang
tentu saja menjadi pelepas kerinduanku. Tanpa mau membuang waktu, kuajak
mereka berdua ke kamar tidurku. Dan seperti sudah kuduga, tanpa basa
basi mereka mau dan mengikutiku. Dan tentu saja, para pembaca semua
pasti sudah tahu, apa yang akan terjadi kemudian dengan kami bertiga.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar