Agen Joker123 - Online Cerita Sex Di Airport - Dua tahun yang lalu aku dan Lily bertamasya ke Disney World di
Orlando, Amerika Serikat. Karena keuangan yang agak paspasan, kami
membeli tiket pesawat dari perusahaan penerbangan yang lebih murah.
Pilihan kami jatuh pada Malaysia Airline (selain murah, pada saat itu
sedang ada harga promosi).
Agen Joker123 - Semua perencanaan terlihat begitu baik.
Kami berangkat dari Jakarta sekitar jam 7 malam. Sesuai jadwal yang
telah diberitahukan, kami transit selama 1 jam di Kuala Lumpur untuk
melanjutkan ke penerbangan selanjutnya langsung ke bandara John F
Kennedy (JFK) di New York .
Itu yang kami tahu. Akan tetapi pada
kenyataannya kami harus transit sekali lagi di Dubai (Arab). Aku sempat
kecewa karena kami tidak diberitahukan akan hal ini sebelumnya. Aku
sempat menanyakan tempat transit mana saja yang akan kami jalani pada
perusahaan travel tempat kami memesan tiket namun mereka mengatakan
bahwa kami hanya transit satu kali di Kuala Lumpur .
Aku sempat
mengira kami telah salah naik pesawat karena persinggahan pesawat kami
di Dubai itu. Setelah mengetahui kapal yang kami naiki benarbenar menuju
ke New York , kami hanya pasrah saja.
Pemeriksaan yang
berteletele di bandara Dubai sungguh melelahkan. Kami harus mengantri
sekitar 1 jam untuk melewati pemeriksaan bagasi saja.
Setelah
barangbarang bawaan kami melewati alat sensor, seorang petugas
menghampiri tas koper istri saya dan berseru dengan suara agak keras
untuk menanyakan siapa pemilik koper tersebut. Istri saya maju dan
mengatakan kepadanya bahwa tas itu miliknya.
Petugas tersebut
memandangi Lily cukup lama. Salah satu hal yang paling kuingat dari
wajahnya adalah kumis yang lebat seperti Pak Raden dalam film si Unyil.
Lalu ia membuka koper itu dan mulai mengacakacak isinya. Isi koper itu
hanyalah pakaianpakaian dan peralatan kosmetik Lily. Tangan pria itu
(sebut saja si Kumis) mengeluarkan satu kantong berisi bubuk hitam dari
dalam koper.
What is this? tanyanya dengan logat yang sulit dimengerti.
Lily menjawab gugup, Coffee.
Alis
si Kumis mengkerut. Matanya menatap tajam Lily. Lalu ia mengatakan
beberapa kalimat yang sulit dipahami. Kemungkinan besar apa yang ingin
dikatakan si Kumis (dengan menggunakan bahasa inggris yang sangat aneh)
adalah membawa kopi dilarang.
Aku mendekati petugas itu dan
menanyakan lebih jelas permasalahannya. Si Kumis masih saja mengacakacak
koper itu seakan mencari sesuatu yang hilang. Tanpa merapihkan isi
koper itu lagi, ia menutupnya dan memandang aku dengan wajah curiga.
Who are you? aku menduga ia mengucapkan katakata tersebut.
Im her husband. Whats the problem, sir?
Ia
terus memandangi kami berdua secara bergantian. Ia memanggil dua orang
petugas lain di belakangnya dengan gerak isyarat. Lalu ia berkata,
Follow me!
Dua koper kami diangkat oleh salah satu opsir yang baru
dipanggil si Kumis sedang yang satunya lagi menggiring kami untuk
mengikuti si Kumis. Si Kumis berjalan dengan cepat masuk ke dalam
ruangan tertutup di pojok lorong tak jauh dari WC.
Ruangan yang
tak lebih dari 3 x 3 meter itu sangat terang dan seluruh temboknya
dilapisi cermin setinggi 2 meter dari lantainya. Koper kami dilemparkan
dengan kasar ke atas meja di pinggir. Ketiga pria itu (termasuk si
Kumis) telah masuk ke dalam ruangan. Pria yang memiliki brewok lebat
menutup pintu lalu menguncinya.
Kami berdua berdiri terpaku di
hadapan mereka bertiga. Aku merasa cemas akan semua ini. Apa yang akan
terjadi? Apa masalah yang begitu besar sehingga kami harus diperiksa di
ruangan terpisah? Pertanyaanpertanyaan seperti itulah yang memenuhi
pikiranku (mungkin tak beda jauh dengan benak Lily).
Baru saja aku
ingin membuka mulut untuk menanyakan permasalahannya, si Kumis
mengatakan sesuatu yang tak jelas. Katakata yang dapat tertangkap oleh
telingaku hanyalah stand, wall (dan against setelah berpikir beberapa
detik untuk mencernanya). Menurut perkiraanku mereka ingin kami berdiri
menghadap tembok. Informasi ini kuteruskan ke Lily yang tidak mengerti
sama sekali perkataan si Kumis.
Dengan enggan kami membalik badan
kami menghadap tembok. Dari pantulan cermin di depan kami, aku melihat
si Brewok dan pria yang satunya lagi yang berbadan lebih tegap (sebut
saja si Tegap) menghampiri kami. Telapak tangan kami ditempelkan di
tembok (cermin) di depan kami dan kaki kami direnggangkan dengan
menendang telapak kaki kami agar bergeser menjauh.
Si Brewok mulai
memeriksa seluruh tubuhku. Dimulai dari atas dan bergerak ke bawah.
Pemeriksaan berlangsung cepat. Beberapa benda di kantong baju dan
celanaku dikeluarkan dan diletakkannya di meja terpisah.
Sama
halnya seperti yang terjadi pada diriku, si Tegap memeriksa Lily dari
atas ke bawah. Sekilas aku melihat dari cermin, si Tegap menggerayangi
payudara Lily walau hanya sebentar.
Tak ada ekspresi yang berubah
dari wajah Lily. Sejak tadi ekspresi yang terlihat hanyalah ekspresi
kecemasan. Aku menepis pemikiran bahwa si Tegap mencari kesempatan dalam
kesempitan pada tubuh istriku. Mungkin saja memang ia harus memeriksa
bagian dada Lily, toh dadaku juga diperiksa oleh si Brewok, pikirku.
Bendabenda
juga dikeluarkan dari kantong jaket, baju dan celana Lily. Meja itu
dipenuhi oleh uang receh, permen, sapu tangan dan kertaskertas tak
berguna dari isi kantong kami berdua.
Kemudian setelah harus
mencerna hampir lima kali katakata yang tak jelas dari si Kumis (yang
ternyata adalah atasan si Brewok dan si Tegap), aku menyadari bahwa ia
menyuruh kami untuk membuka pakaian kami. Jantungku seperti berhenti
berdetak. Lily masih belum dapat mengirangira perkataan si Kumis itu.
Tanpa
memberitahu istriku, aku mencoba untuk memprotes kepada si Kumis. Namun
si Kumis membentak, yang kuduga isinya (jika diterjemahkan): Jangan
macammacam! Cepat laksanakan! Beberapa kata yang dapat tertangkap jelas
oleh telingaku adalah Dont play dan Quick.
Aku membisikkan kepada istriku keinginan si Kumis. Mata Lily membesar dan mulutnya terbuka sedikit karena kaget.
Si
Tegap dan si Brewok sudah berdiri di samping kami dan mengawasi kami
dengan pandangan tajam. Aku melirik ke pinggang si Brewok. Pandanganku
tertumpu pada pistol yang menggantung di pinggang tersebut.
Perasaan
takut sudah menguasai diriku. Aku mulai melepaskan pakaianku dari
sweater, kemeja, kaos dan celana panjang. Pada saat aku melepaskan
kemejaku, Lily masih belum beranjak untuk melepaskan pakaiannya. Karena
takut istriku dilukai, aku memberi pandangan isyarat kepadanya agar ia
segera melepaskan pakaiannya.
Akhirnya dengan berat hati ia
melepaskannya satu per satu. Jaket, kemeja, kaos dalam dan terakhir
celana jeansnya. Kami berdua berdiri hanya dengan pakaian dalam kami.
Si
Kumis berkata sesuatu yang sama sekali tidak dapat kumengerti. Detik
berikutnya si Tegap menarik tangan Lily dan membawanya ke sisi tembok
yang bersebelahan dengan tembok di hadapan kami. Tangan si Brewok
menahanku ketika aku hendak mengikuti Lily. Dont move! katanya kepadaku
dengan sangat jelas.
Aku masih dapat melihat Lily (dari bayangan
di tembok cermin) berdiri tak jauh di sebelah kananku. Ia menghadap
tembok namun pada sisi yang berbeda dengan tembokku.
Lalu si
Brewok menarik tanganku agar kedua telapak tanganku menempel di tembok
cermin dan merenggangkan kakiku. Si Tegap melakukan hal yang sama pula
terhadap Lily.
Si Brewok yang berdiri di belakangku, merabaraba
bagian tubuhku yang ditutupi oleh celana dalamku, mencaricari sesuatu
untuk ditemukan. Setelah itu sambil menggelengkan kepalanya, ia
mengatakan sesuatu kepada si Kumis.
Pada saat itulah aku melihat
tangan si Tegap menggerayangi tubuh Lily. Dengan jelas aku melihat
tangannya meremas payudara Lily selama beberapa detik. Tangannya
bergerak ke bagian bawah tubuh Lily. Kemudian si Tegap berjongkok di
belakang Lily dan aku tak dapat lagi melihat apa yang dikerjakannya
setelah itu. Lily memejamkan matanya. Alisnya sedikit mengkerut.
Selama
sekitar 20 detik, aku tak berani memalingkan wajahku untuk melihat apa
yang dikerjakan si Tegap pada istriku. Lalu ia berdiri dan berkata pelan
kepada si Kumis (lagilagi aku tak dapat menangkap katakata yang
diucapkan mereka).
Si Kumis berkatakata lagi diikuti dengan
ditariknya celana dalamku ke bawah oleh si Brewok. Belum sempat kaget,
aku mendengar Lily menjerit kecil. Rupanya celana dalamnya sudah ditarik
ke bawah sampai ke lututnya, sama seperti yang dilakukan si Brewok
terhadap celana dalamku. Setelah itu si Tegap meraih kaitan di belakang
BH Lily dan melepaskannya dengan cepat. Si Tegap meraih BH itu dan
menariknya satu kali dengan keras sehingga lepas dari tubuh Lily.
Secepat
kilat Lily menutupi kedua dadanya. Aku pun menutupi kemaluanku. Kami
berdua berdiri tegang. Si Kumis berjalan perlahan menghampiriku lalu
bergerak ke arah Lily. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri dan
memperhatikan tubuh istriku. Aku rasa, Lily mulai akan menangis.
Si
Kumis memberi isyarat kepada si Tegap. Lalu si Tegap menghampiriku dan
berdiri menantang di sampingku. Aku hanya melirik sekali dan mendapati
wajahnya berubah menjadi lebih kejam tiga kali lipat.
Sambil
mengatakan sesuatu, si Kumis mendorong pentungan hitam (yang biasa
dibawa oleh polisi) yang dipegangnya ke arah tangan Lily yang menutupi
buah dadanya. Aku dapat melihat istriku menjatuhkan kedua tangannya ke
sisi tubuhnya. Si Kumis kembali memandangi Lily dan kali ini
pandangannya terkonsentrasi ke arah payudara istriku.
Hampir semenit penuh ia memandangi tubuh Lily. Lily hanya memejamkan matanya, mungkin karena takut (atau malu?).
Dengan
menggunakan pentungan hitamnya itu, si Kumis menurunkan celana dalam
Lily dari lutut sampai ke mata kakinya. Lalu ia memaksa Lily untuk
merenggangkan kakinya sehingga mau tak mau ia melangkah keluar dari
celana dalamnya.
Pada saat si Kumis mulai menggerayangi payudara
istriku, aku beringsut dari tempatku untuk mencegahnya. Namun bukan aku
yang mencegah perbuatan si Kumis, si Tegap dibantu oleh si Brewok
menahan tubuhku untuk tetap berdiri di tempat.
Aku meneriaki si
Kumis untuk menghentikan perbuatannya. Teriakanku disambut dengan
tamparan keras pada pipi kananku. Aku merasakan rasa asin yang kutahu
berasal dari darah yang mengalir dalam mulutku. Akhirnya aku hanya
berdiri dan berdiam diri.
Tak beberapa lama setelah itu, si Kumis
berjongkok di depan Lily sehingga aku tak dapat melihat apa yang
dilakukannya. Dari sudut pandangku, aku hanya dapat melihat dari
bayangan di cermin bagian belakang tubuh si Kumis yang sedang berjongkok
di antara kedua paha Lily.
Tidak terdengar suara apa pun selain
suara detak jantungku yang semakin keras dan cepat. Lily tetap
memejamkan matanya dengan alis sedikit mengkerut, sama seperti tadi.
Lily
tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi masuk ke dalam ruangan
itu. Istriku memang agak penakut dan kurang berani mengungkapkan
pendapatnya pada orang lain. Walaupun demikian, aku agak heran dengan
sikap istriku saat itu yang tidak memprotes sedikit pun atas perbuatan
si Kumis terhadap dirinya. Atau mungkin saja si Kumis tidak melakukan
apaapa saat itu, batinku.
Setelah lima menit berlalu dalam
keheningan, tibatiba istriku mengeluh (lebih menyerupai mendesah),
Hhwwhhh Aku melirik ke arahnya dan mendapati ia tidak lagi menutup
matanya. Matanya agak membelalak dan mulutnya terbuka sedikit.
Setelah
itu, si Kumis berdiri dan menghampiri si Tegap. Ia memberi isyarat
dengan tangannya kepada si Tegap dan si Brewok untuk meninggalkan
ruangan itu.
Aku yakin (sangat yakin, untuk lebih tepatnya) bahwa
aku melihat beberapa jari si Kumis mengkilap karena basah. Hanya dengan
melihat hal itu, cukup bagiku untuk menduga apa yang telah dilakukan si
Kumis terhadap istriku.
Si Kumis berkatakata kepada kami. Kali ini
aku yakin ia mengatakannya dalam bahasa inggris. Walau aku hanya dapat
menangkap sepenggal kalimat (may pass), namun aku yakin bahwa ia
menyuruh kami mengenakan kembali pakaian kami dan memperbolehkan kami
untuk melanjutkan perjalanan kami.
Awalnya aku tak mempercayai
pendengaranku (dan tafsiranku terhadap katakatanya). Namun setelah
mereka keluar dari ruangan itu dan meninggalkan kami berdua saja, aku
semakin yakin.
Aku menyuruh Lily untuk mengenakan pakaiannya secepat mungkin. Dan ia mulai menangis terisakisak sambil mengenakan pakaiannya.
Setelah
selesai mengenakan seluruh pakaian kami, aku memeluk istriku yang masih
menangis. Dalam pelukanku tangisannya semakin menjadi. Aku hanya
mengeluselus rambutnya dan menenangkan hatinya dengan mengatakan bahwa
semua itu sudah berakhir.
Sesampai kami di hotel (di Orlando),
Lily akhirnya menceritakan apa yang diperbuat si Kumis terhadap dirinya.
Ia bercerita bahwa sambil menjilati klitorisnya, si Kumis
menggesekgesekkan jarinya ke kemaluan istriku. Pada akhirnya si Kumis
memasukkan satu dua jarinya ke dalam liang kewanitaannya lalu
mengocoknya beberapa kali.
Lily mengatakan bahwa dirinya merasa
jijik atas perbuatan si Kumis. Setelah beberapa saat, aku menanyakan
padanya apakah ia terangsang saat itu.
Mendengar pertanyaan itu,
Lily langsung mencakmencak dan mengambek. Dalam rajukannya, ia
menanyakan kenapa aku berpikiran seperti itu.
Aku mengungkapkan
bahwa aku melihat jarijari si Kumis basah pada saat ia menghampiriku
sebelum keluar dari ruangan itu. Lily menjawab bahwa jarijari itu basah
karena terkena ludah dari lidah yang menjilati klitorisnya. Karena tak
mau melihat dirinya merajuk lagi, akhirnya aku menerima penjelasannya
dan meminta maaf karena telah berpikiran seperti itu.
Sebenarnya
di dalam otak, logikaku terus berputar. Bagaimana mungkin ludah si Kumis
dapat membasahi sepanjang jarijarinya itu, pikirku. Dalam hatiku yang
terdalam sebenarnya aku tahu bahwa jarijari si Kumis bukan basah oleh
ludah melainkan oleh cairan yang meleleh dari kemaluan istriku.
Namun
aku menepis pendapatku itu dan tidak berniat membahasnya lagi dengan
Lily agar kami dapat menikmati sisa waktu kami di Amerika itu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar