Bandar Sabung Ayam - Cerita Sex Hari Yang Panas Di Siang Hari - Makin panas aja nih suasana game lanjut langsung aja yu
Mang,, lokasi gamenya pindah ya?,, kemana?,, tanya Aida, berjalan beriringan dengan Bandi.
Iya
buu,, kita pindah ke sana, tempatnya lebih rindang, adem enak
pokoknya,,, Mang Kholil tampak kerepotan membawa beberapa balon yang
tertiup angin, meski sudah diisi dengan air beberapa gelas air, balon
itu tetap saja bergerak liar saat disapa angin yang lebih kencang.
Bandar Sabung Ayam - Di
depan Mang Kholil tampak rombongan Bu Sofie yang berjalan lebih dulu
menuju tempat yang dimaksud. Wanita bertubuh super montok itu
menggelendot manja di lengan Pak Tama. Tertawa menanggapi banyolan yang
dilontarkan oleh Darto dan yang lainnya.
Buuu,,, tolong tangkepin
tu balon Buu,,, tibatiba Mang Kholil yang berusaha secepatnya tiba di
tempat yang dituju, berseru pada Aida yang berjalan agak tertatih.
Aida berusaha menangkap, tapi langkahnya tertahan. Menjepit erat pahanya, seperti menahan sesuatu.
Kenapa Bu,, koq jalannya gitu,,,hehehee,, goda Bandi.
Ihhh,, kamu ini, udah nyemprotnya paling banyak, masih aja berlagak bego gak tau,,, banjir banget niiihhhh,,,
Hahahaaa,, masa??? tadi ga dikeluarin dulu sih,,
Mana sempat,,, Bu Sofie keburu teriakteriak suruh kita ngumpul,, Duuuhhh,, gmana ni Bann,,, banyak banget,,
Udah,, biarin aja Bu,, ntar juga kering dicelana, kalo ibu jalan kaya gitu malah ngundang perhatian suami ibu lhoo,,
Apa
yang diucapkan Bandi ada benarnya, Aida berusaha berjalan senormal
mungkin, tapi rembesan cairan yang mengalir membuat dinding vaginanya
terasa geli.
Iiihhh,,, sialaaaan,, kenapa tadi mesti buang didalam
sih,,, Aida mulai ngedumel, tangannya berpegangan dilengan Bandi,
berharap dapat membantu agar jalannya bisa menjadi sedikit lebih normal.
Kenapa kita tidak pakai ATV aja sih,, kayanya jauh nih jalannya,,,
Bandi mengangkat kedua pundaknya, sebagai jawaban tidak tau.
Yang depan jalan kaki, ya kita jalan kaki juga,,,
Tanpa
disadari Bandi, beberapa langkah di belakangnya, Zahra menatap dirinya
dengan pikiran yang kacau. Bukan lagi karena cemburu, tapi karena
dihantui rasa bersalah yang tibatiba menyergap.
All is well,,, gumamnya pelan. Menguatkan hati yang masih terombangambing, layaknya gadis belia yang tengah mencari jati diri.
Hai Bu Dokter,,, gimana istirahatnya, udah cukup?,,
Eeehh,,, Mas Rahadi, iya,, cukup,, cukup buat bikin hati plong,, hehehee,, Zahra kaget mendengar sapaan Rahadi.
Bandi yang mendengar suara Zahra dan Rahadi menoleh ke belakang.
Zaa,,
sapa Bandi ramah sembari menebar senyum. Matanya berusaha membaca raut
wajah wanita yang penutup kepalanya mulai terlihat lusuh.
Zahra
membalas dengan senyum, Tak ada lagi luapan emosi diwajah cantiknya, dan
itu lebih dari cukup untuk menenangkan hati Bandi, lalu kembali menoleh
kedepan, menanggapi kegelisahan Aida.
Hati plong?,,,Maksud ibu?,, Rahadi kembali melanjutkan obrolan mereka yang terpotong.
yaaa
plong aja,, hehehee,,, Zahra tersenyum, melangkahkan kaki dengan
santai. Ternyata senyum Bandi juga mampu memberikan ketenangan yang sama
pada wanita itu, dan itu membuat hatinya sedikit lebih tenang, plong.
Diamdiam
Rahadi yang berjalan di samping berdecak kagum memandangi kecantikan
natural seorang Zahra. Begitu sederhana tanpa polesan make up yang
mencolok. Mata pemuda itu turun kebongkahan payudara yang memamerkan
bentuk puting yang samar terlihat.
Ooowwwhhh,, Shiiit,,, mancung banget tu puting,,,
Zahra
bukannya tidak tau apa yang tengah diperhatikan oleh mata Rahadi, tapi
dirinya sudah sangat lelah untuk menghindar. Di benak Zahra, Rahadi,
seperti hal nya Mang Kholil yang terkagumkagum pada tubuh indahnya, tak
ada yang dapat mereka lakukan selain memandangi dan berdecak kagum.
Sementara Rahadi yang semakin penasaran dengan tubuh semampai Zahra,
yang selama ini sangat jarang memperhatikan sosok wanita cantik itu,
berkalikali menelan ludah. Sambil memperlambat langkahnya, lagilagi
Rahadi harus berdecak kagum dengan kemolekan pantat yang tidak terlalu
besar, tapi bentuknya menungging seperti pantat bebek. Kencang dan
padat.
Hhhmmm,, pasti abis ngelepas beban itu yaa?,,,hehehe,, tibatiba Rahadi nyeletuk.
Maksudnya?,,, kini giliran Zahra yang balik bertanya.
Hehehee,,
tuh ngalir sampai ke paha ibu,,, Rahadi tertawa, matanya tertuju pada
tetesan sperma yang terlihat samar dicelana leggins putih.
DEGG!!! Wajah Zahra pucat seketika, jarinya segera mengelap cairan itu.
Ini,, ini cuma susu bendera cair koq, buat tambahan es kelapa tadi,,, Wanita itu mencari alasan sekenanya.
Tapi Rahadi memandang dengan tak percaya.
Nihh,, manis koq,, ga percayaan banget sih jadi orang,, dengan terpaksa Zahra menjilat cairan itu dengan lidahnya, Mauuu?,,
Gilaaa,,
aku menjilat sperma Pak Tama,,, Wanita itu mengumpat dalam hati. Kesal
kenapa dirinya menjilat sperma itu untuk meyakinkan Rahadi.
Owwhh,,
ngga,, terimakasih,,, tapi sepertinya dipantat ibu masih banyak susu
yang nempel tuh,, jawab Rahadi sambil menunjuk beberapa tetesan sperma
yang mengahmbur di pantat hingga bawah selangkangannya.
Zahra tak
mampu lagi berkelit, merasa begitu malu, pasti pemuda di hadapannya
berfikir bahwa dirinya baru saja melakukan perbuatan terlarang dengan
seseorang, walau sebagian tuduhan itu ada benarnya.
Uuuugghhhh,,,
Pak Tama,,, kenapa tadi ga dibersihiiinn,, ingin sekali wanita itu
berteriak mengumpat ulah bos dari suaminya itu, tapi bukankah tadi
justru dirinya sendiri yang memberikan tawaran.
Uuuhhhggg,,, lagilagi bibirnya mengumpat kesal.
Sialnya,
ketika tubuhnya membungkuk berusaha membersihkan, saat itulah Bandi
berbalik, melihat apa yang dilakukannya. Wajah cantik itu semakin pucat.
Kamu baikbaik aja kan Zaa,,,
Ehhh,, iya,, gapapa koq,,, Zahra tersenyum kecut menjawab pertanyaan Bandi.
Cepet
dikit Bann,,, aku malu kalo sampai ada yang netes, terus kelihatan sama
Zahra,, Pinta Aida lalu menggamit tangan Bandi untuk melangkah lebih
cepat.
Sini mba,, biar aku bersihkan, tawar Rahadi. Melepas bandana yang terikat di kepalanya.
Eeehh,, ga usah Di, aku bisa sendiri.
Ststsss,,
udah tenang aja mba, ga bakal kelihatan koq, lagian kalo Mba Zahra
berisik, ntar Bandi sama Bu Aida di depan kita malah tau lho,,,
Diii,,, ga usaaahh,,,
Ststssss,, tetap jalan dengan tenang seolah ga ada apaapa,,
Zahra
menutup mulutnya, apa yang dilakukan Rahadi sebenarnya sangat lancang.
Mengusapusap bongkahan pantat montoknya. Tak lebih dari alasan Rahadi
untuk bisa merasakan kemolekan pantat seorang wanita yang wajahnya
selalu tertutup kain. Tapi Bandi yang berjalan beberapa langkah di
depannya bisa saja menoleh kalo mendengar suara ributnya.
Uuugghh,,
Rahadiii,, cepet, ntar ada yang liat Or,,, Diii!!! jangan nakaaaal,,
Dengus Zahra, berusaha menepis tangan Rahadi yang awalnya mengusap,
tibatiba berubah menjadi remasan.
Tapi tangan itu terus saja membersihkan, sesekali meremas bergantian sepasang bongkahan pantat yang padat.
Benerbener
pemuda yang nakal,,, gumam Zahra, yang menoleh memperhatikan wajah
Rahadi yang tersenyumsenyum sendiri dengan ulahnya. Namun setiap tangan
pemuda itu bergerak meremas, Zahra dapat melihat gelora Nafsu yang
tertahan.
Asseeem,,, cute juga ternyata keponakan Bu Sofie ini,,
Zahra mulai mengaggumi wajah Rahadi yang cukup ganteng, seperti artis
korea dengan rambut lurus yang sengaja dibikin acakacakan.
Sudah
belum ngebershinnya, cepet entar kelihatan orang Di,,, mata Zahra
menoleh ke belakang, memastikan tak ada seorang pun di belakang mereka.
Bentar mba,,, susunya lengket banget,,
Egghhh
iyaa,, tapi cepet,, langkah wanita itu sesekali berjinjit akibat ulah
jarijari Rahadi yang sengaja merangsek menyusuri belahan pantatnya.
Matanya nanar mengawasi ke depan.
Baca JUga Cerita Sex Lain nya di beritaseks.com
Ooowwhh mbaa,, sekel banget mbaa,,, indaah bangeeet,, mba pinter banget ngerawat ni daging biar tetep kenceng,, Ooowwhhh,,,
Ststssss,,, jangan berisik,,, jemari lentiknya mencengkram pegelangan Rahadi, mengingatkan pemuda itu untuk tidak berisik.
Mbaa,,
yang dibawah sini dibersihin juga ngga?,, banyak banget nihh,,, telapak
tangan Rahadi mencaplok sepanjang garis selangkangannya.
Tatapan
mereka bertemu, bila Zahra menahan birahi yang tersulut dengan wajah
yang memerah, wajah Rahadi justru menunjukkan hasrat yang begitu besar,
berharap diberi sedikit kesempatan untuk mengenali selangkangan wanita
cantik itu.
Bersihinn ajaa,, ehh,,Terseraaah,, terseraaah kamuu,, tapi cepet,, Oooowwwggghhh,,, jangan diremeeees gituuu,,,
Izin yang keluar dari bibir seorang wanita cantik berjilbab itu, seolah memberi perintah kepada tangan Rahadi dengan cepat.
Maaf mbaaa,,, aku gemeees bangeeet,,,
Gemeeesss,,,
kenapaa?,, punya istrimu bentuknya kan juga seperti ini,,,Aaasshhh,,,
Zahra kadang heran, apa yang membuat para lelaki begitu berNafsu
mengejar selangkangan para wanita, bukankah bentuknya sama, hanya sebuah
liang senggama yang berbentuk vertikal.
Ya samaaa,,, punya Anjani
dan Bu Sofie juga sama seperti ini,,, tapi karena ini milik mba Zahra
yang selalu mengenakan jilbab lah yang menjadikannya luar biasa,
BUUGGG
katakata Rahadi menohok hatinya. Menyadarkan posisinya sebagai wanita
yang selalu menutup rapat bagian tubuhnya. Menyadarkannya sebagai wanita
yang selalu menjaga tingkah laku. Tapi justru karena itulah, semakin
rapat seseorang menutup bagian tubuhnya, semakin besar pula rasa
penasaran yang tercipta.
Sudaaahh Diii,,, cukup,,, Aaagghhh,,,
kamu mau ngapaiiinn,, tubuh Zahra telonjak, kakinya menjingkit, saat
dirinya asik bermain dengan fikiran, tangan Rahadi dengan cepat
menyelusup di sela celana legginsnya.
Mbaaa,, pliss jangan berisiiiik,, pliss,, Rahadi ngga mau mba malu diliat Bandi sama Bu Sofie,
Uuugghh,,,
pinter bener ni bocah manfaatin situasi,, Hati Zahra menggumam kesal,
kondisi dan situasi memang sangat mendukung Rahadi untuk mengintimidasi
Zahra.
Oooowwhhh,, Diiit,, jangan Diii,, pliss,, wanita itu menatap Rahadi dengan wajah menghiba.
Mbaaa,,
maaf mba,, kalo aku meminta dengan sopan untuk melakukan ini, meski di
tempat yang sepipun Mba pasti tidak akan mengizinkan,,,
Rahadi memelas, berharap Zahra mengendorkan cengkraman tangannya yang menahan laju tangan,
maaf banget mbaa,,, cuma saatsaat seperti ini aku bisa menyentuh bagian terindah milik Mba Zahra,, pliss,,,
Diit,, aku melarang karena ini salaaah,, kamu pasti mengerti itu,,, mengertilah,,,
Tapi tangan Rahadi terus saja bergerilya, merasakan langsung bagaimana mulusnya kulit pantat Zahra.
Mbaaa,, mulus banget,, seperti pantat bayiii,, uuuggghh,, Rahadi rela kok kalo ni wajah dipantatin sama Mbaa,,,
Zahra
membuang pandangannya kedepan, sekaligus mengawasi Bandi yang dapat
kapan saja menoleh ke belakang. Meski dirinya tau Rahadi tengah
mengeluarkan jurus gombal para lelaki, tapi tetap saja pujian itu
membuatnya tersipu.
Diii,, jangann,, kesituuu,,plisss,,, wanita
berjilbab itu menggelengkan kepala saat jariijari Rahadi berusaha
menjangkau bibir kemaluannya, memandang pemuda yang memasang wajah
memohon.
Ugghhh,,,Kenapa ni bocah pasang wajah melas, ngarep
banget ama selangkangan kuuu,, pertahanan hati Zahra mulai goyah,
cengkramannya mengendur.
Owwwhhh,, Diii,, Zahra terus
menggelengkan kepalanya. Namun tidak lagi untuk menunjukkan larangan,
tapi sebuah pelampiasan dari geliat birahi saat jarijari seorang lelaki
yang perlahan tapi pasti menyeruak masuk membelah liang vaginanya.
Jantungnya
berdebar kencang. Bagian paling sensitif nya itu dapat mengenali
bagaimana jarijari Rahadi berformasi. 1 jari Rahadi, jari telunjuk,
menggesek bagian kacang kecil yang ada didepan gerbang. Disusul jari
kedua, jari tengah yang menggeseki labia mayoranya, membuat kaki Zahra
gemetar menahan rangsangan.
Oooowwwhh,, Bandii,, Plisss,, jangan
liat ke belakaaaang,, Jantung Zahra berdebar, seseorang yang sangat
berarti baginya, berdiri hanya beberapa meter dari tempat dirinya
dikerjai. Berharap lelaki bertubuh jangkung itu tidak menoleh ke
belakang.
Owwwgghhhh,,, Rahadi,,, punya mba diapaaaiiinn,,, tubuh
wanita itu menggigil saat jari ketiga dari tangan Rahadi, jari manis
yang berhiaskan cincin akiq perlahan menyelusup ke dalam vaginanya.
Kini
lengkap sudah, setiap bagian dari kemaluan wanita cantik yang selalu
mengenakan penutup kepala itu, menerima pesanpesan birahi, yang bergerak
liar. Tangan Zahra tak lagi mencengkram lengan Rahadi, tapi justru
berpegangan pada pundak pemuda itu, berusaha meredam tubuhnya yang
gemetar menerima rangsangan di tengah umum. Disadarinya, cairan dari
liang senggamanya mengalir deras. Membasahi jarijari Rahadi. Matanya
bergerak liar mengawasi sekitar, begitu takut tingkah gilanya ketahuan
oleh yang lain.
Oooowwwhhhsss,,, Aaahhhhsss,,, pantat Zahra bergerak maju mundur, kekiri dan kekanan, mengikuti gerak jari Rahadi.
Seperti
inikah rasanya kegilaan yang dialami oleh para istri saat melakoni game
tadi, memacu birahi dalam kebisuan, pasrah mengikuti kehendak para
pejantan.
Langkah kedua nya semakin pelan, semakin jauh dari
rombongan. Dan gilanya Zahra justru berharap tempat yang mereka tuju
masih jauh.
Diii,, jangan terlalu dalaaam,,, yaa disituuu,,
Uuugghh,,, Zahra harus menghentikan langkahnya, menatap wajah Rahadi
berharap untuk menyelesaikan kegilaan itu secepatnya. Menggeliat,
gemetar, cemas, mengejar sesuatu yang sangat baru baginya.
Oooowwwhhhsss,,
Diii,,, tarriikkk tangannmuuu,, aduuuuhh,, paha Zahra menjepit tangan
Rahadi dengan kuat, seiring dengan desir cairan yang menghambur keluar.
Suddaaaah,,
Di,,, tarik tanganmu,, maaf, tangannmu jadi ikut basah,,, wajah Zahra
memerah. Mengamati tangan Rahadi yang keluar dari legginsnya dalam
kondisi basah oleh cairan.
Gilaaa,, ini benarbenar gila, tubuh
Zahra membungkuk, menopang tubuhnya dengan tangan yang bertengger di
lutut, meredam kakinya yang gemetar oleh orgasme singkat.
Masih
tidak percaya, Bagaimana bisa dirinya yang selalu menjaga prilaku bisa
senekat ini, membiarkan tangan seorang lelaki mengadukaduk liang
kemaluannya.
Mbaaa,,, kita kesitu dulu yuuuukkk,,, Rahadi menunjuk
pepohonan rimbun, dengan wajah memelas, memohon dengan memasang wajah
tanpa dosanya. Sementara tangan pemuda itu meremasremas batang di balik
celananya.
Ngapaaainnn,,, entaaaar kitaaa malah dicarriin,,, mata
Zahra tertuju pada batang Rahadi yang tegak mengacung ke depan, mengarah
tepat ke wajahnya yang tengah membungkuk.
Berpurapura tidak
mengerti dengan apa yang innginkan oleh Rahadi, sebuah penyelesaian
dengan penetrasi di liang kemaluannya. Dibawah sadarnya, pikiran wanita
itu tengah mengirangira seperti apakah bentuk dari batang Rahadi.
Mbaaaa,, aku mauuu nyeluuup,, sebentaaaar ajaaa,, plisss,,
Tidaaak Di,, tidaaak boleeeh,, ini sajaa sudah terlalu gila buat mbaaa,,,
Plisss
mbaaa,, udah ga taaahhaaan,, tolong bantuin Rahadi Mbaaa,, Rahadi
menarik karet celana pantainya, memamerkan batangnya yang bengkok
kekiri.
Deeeg
Diiii,,, kenapa punya mu bisa seperti ittuuuu,,
Zahra
kaget plus bingung, seperti halnya Nabila ketika pertama kali melihat
batang Rahadi saat memberikan servis kilat bersama Shita.
ga taauu mbaa,, koq bisa bengkok banget seperti ini, tapi banyak koq yang suka, Mba Nabila aja juga suka koq,
Nabila??,,,
Zahra melotot, sembari memapar wajah tak percaya. Tapi bila ingat
kejadian di malam itu, apa yang dikatakan Rahadi bukanlah suatu hal yang
mustahil. Tapi seingatnya, Nabila dulu memang seorang gadis yang supel,
tapi selalu menjaga sopan santun.
Malah Mba Nabila udah pernah nyobain. Tapi cuma sebentar sih,,, Mba juga mau nyobain?,,
Nabila,, kamu,, vagina mu sudah pernah merasakan batang unik inii?,,, jantung Zahra kembali berdetak tak teratur.
Batinnya
bertanyatanya, haruskah kembali mengulangi kejadian beberapa menit yang
lalu, membiarkan penis seorang lelaki menghambur sperma tepat di pintu
gerbang kemaluannya. Bahkan mungkin ini akan menjadi lebih gila lagi.
Memang tidak sulit, dirinya cukup menurunkan celananya dan membiarkan
batang itu meyelusup masuk ke alat senggama miliknya yang sudah sangat
basah. Sangat mudah, bahkan terlalu mudah. Zahra yang tengah mengenali
dunia barunya, dunia ekshibis yang bebas, yang diselubungi oleh keluguan
dan kealimannya, kini mulai tergoda.
Kebimbangannya meraja,
sangat ingin mencoba apa yang telah dilakukan Nabila, memasukkan batang
milik lelaki lain ke dalam tubuhnya. Jantung wanita itu berdetak
kencang, menatap Bandi dan Bu Sofie yang mulai jauh meninggalkannya,
lalu beralih menatap pepohonan rimbun yang dimaksud oleh Rahadi.
Ugghhh,,,
haruskah aku mengangguk menerima tawaran Rahadi untuk disetubuhi, tapi
bukankah tadi aku juga sudah menjanjikan tubuh ini untuk Pak Tama,
setelah Bandi,, yaaa,, setelah Bandi,, batin Zahra berkecamuk hebat.
Sesaat Zahra menatap Rahadi, wajah putih dengan style remaja korea.
Diii,,, Engghhh,,, katakata Zahra terhenti, bingung, haruskan dirinya juga memberikan janji serupa pada pemuda itu.
Zaa,,, kamu baikbaik ajakan?,,, terdengar teriakan lantang dari Bandi, yang bergegas menghampirinya.
Kamu
baikbaik ajakan?,,, terlihat wajah cemas Bandi yang tak dapat
disembunyikan saat mendapati tubuh Zahra membungkuk, tampak lemas dan
gemetar.
Di,, kamu apain Zahra ku?,,, suara Bandi pelan tapi
menebar ancaman tersembunyi pada Rahadi. Membuat pemuda itu mulai
ketakutan, tak pernah dirinya melihat Bandi seemosi itu.
Apalagi
saat Bandi mendapati batang Rahadi yang menyembul dari balik celana,
sangat sulit untuk disembunyikan oleh pemiliknya. Sementara Zahra justru
termenung,
Zaa ku,,, bibir tipis wanita itu mengulang apa yang
tadi dikatakan Bandi, katakata yang mengungkapkan perasaan Bandi yang
masih menganggap dirinya sebagai milik lelaki itu.
Kata yang
sangat singkat, tapi mampu membuat hatinya mabuk kepayang seketika,
tersanjung, bahagia, sekaligus membuat rasa bersalahnya semakin besar.
Bandi,,
aku ngga apaapa koq,,, Rahadi cuma mau nolong aku, ngga tau kenapa
kakiku keram, mungkin terlalu capek,, Zahra berusaha menenangkan Bandi.
Ya
udaahh,, kau jalan duluan sana,, Bandi menyuruh Rahadi dengan suara
datar, berusaha menyembunyikan emosi, dari batang Rahadi yang mengeras,
Bandi mengambil asumsi bahwa pemuda itu baru saja atau hendak melecehkan
Zahra.
Ok,, aku duluan, biar aku menemani Bu Sofie,,, ucap Rahadi, lalu meninggalkan keduanya.
Bann,,
ini tidak seperti yang kamu fikirkan koq,,, Zahra bisa membaca curiga
dari wajah Bandi. Dan tak ada yang bisa dilakukannya selain mengelak,
tak mungkin untuk mengakui kegilaan yang baru saja terjadi.
Iya
aku percaya koq, kamu adalah Zahra,,,karena itu aku selalu percaya,
justru aku minta maaf karena tidak tau apa yang terjadi dengan mu saat
berjalan di belakangku, bagaimana dengan kakimu?,,bisa berjalan? Sini
biar aku gendong,,
Meski hati Bandi ketarketir tak berani untuk
mendugaduga tentang apa yang terjadi pada diri wanita yang membuatnya
terpesona itu, Lelaki itu tetap berusaha tersenyum, mencoba menenangkan
hatinya.
Ngga usah, aku masih bisa jalan sendiri koq,, tapi Bandi tak menggubris, tangannya segera membopong tubuh Zahra.
Aaakkhh,,, Zahra terpekik, tertawa,
Bann jangan kaya gini,, kalo gini seperti pengantin baru turun di pelaminan,,, hihihii,,,
Bandi yang sudah hendak melangkah terhenti,
Yaa,, ini seperti orang yang menggelar pernikahan,,hehehee,, lelaki itu tersenyum kecut. Entah kenapa hatinya terasa nyeri.
Sesaat
keduanya saling menatap, ada penyesalan dihati Zahra menyebut katakata
pernikahan. Yaa,, pernikahan, sebuah sesi hidup yang menunjukkan
kepemilikan sepenuhnya atas diri dan hati seseorang.
Ayoo,, aku
gendong dibelakang aja yuk,,, Bandi menebar senyum, mencairkan suasana.
Membungkukkan tubuhnya agar Zahra bisa naik ke atas punggungnya.
Uuugghhh,,, berat juga ya ternyata tubuhmu,,, Bandi tertawa menggoda Zahra.
Iiihh,, langsing gini koq dibilang berat,,, apalagii,,
Apalagi apa?,,,
Eeengghh,,,Apalagi
punyaku kan lebih kecil dari milik istrimu,, Zahra merasa malu, karena
sepasang benda yang tengah diperbincangkan menempel erat di punggung
Bandi.
Kata siapa kecil?,,, ini aja berasa banget gedenya, apalagi
kemaren waktu aku isepisep gede juga koq,, walo gelap, tanganku masih
hapal bentuk dan ukuran punya mu ini,,hahahaha,,,
Iiiihh,, tu
kan,, seneng banget ngeledekin,, Zahra mencubit lengan Bandi. Teringat
saat Bandi mencumbu tubuhnya di kegelapan bibir pantai.
Hahahahaa,, tapi emang bener koq,,, Eehhh,, tapi koq punggung ku kayanya basah ya,, kamu ga ngompolkan hahaha,,?,,
gag,, ga koq,, tadi aku,, aku,, celanaku ketumpahan air kelapa tadi,,
Oowwhhh,,,
ya gapapa sih, cuma khawatir aja ntar kamu malah masuk angin,, Bandi
memiringkan kepalanya berusaha menoleh kewajah Zahra sambil tersenyum.
Dimata Zahra senyum itu sangat manis.
Bann,, ni aku kasih
mmuaahhhh,,, buat upah nggendong,,,hehehee,, Zahra tidak tahan untuk
tidak mengecup pipi lelaki yang tengah menggendong tubuhnya. Sebuah
kecupan singkat namun sarat dengan rasa kasih dan sayang.
Waahhh,, lagi dong,, lagii,,
Hahahaha,,, udahh,, ngga boleh serakah,,hahaha,,,
Entah
kenapa hati Zahra serasa lebih tenang, setelah cukup lama
terombangambing, mulai dari tersingkapnya kembali memori mereka saat
pertemuan beberapa tahun lalu, yang berbuah menjadi rasa cinta yang
kembali menyapa, gairahsex.com disusul dengan hadirnya cemburu, marah,
kesal, dan petualangan gila sebagai pelarian hatinya. Dan kini,,,
dirinya kembali memeluk lelaki yang beberapa tahun lalu bersimbah darah
dipangkuannya. Dengan kedamaian hati yang tak pernah ditemukannya
sebelumnya.
Bandii,,, maafin aku ya,,, ucap Zahra mempererat
pelukannya, merebahkan kepalanya di pundak Bandi. Hati kecilnya
berharap, dapat terus memeluk Bandi, bukan hanya saat ini, tapi
selamanya.cerita Sex
Maaf untuk apa?,,,
Untuk apapun yang kau anggap salah,,,dan tadiii aku,, bibir tipis Zahra terdiam.
Kenapa tadi?,,,
Tadii,,
aku udah nakal,, nakal banget,,, Ada rasa sesal dihati Zahra, telah
mengucap kejujuran, yang bisa saja merusak kedamaian yang baru saja
dirasakannya.
Owwhhh,, sudah mulai nakal juga yaa,,, hehehee,, tapi jangan kelewatan ya sayang,,, agar aku bisa terus mengagumi mu,,
Bannn,,,hikss,,
Zahra tak mampu menahan air matanya, setulus itukah kasih sayang yang
diberikan oleh Bandi untuk dirinya. Wanita itu tau hati lelaki ini
tengah menahan pedih, namun berusaha menyimpannya sendiri, dan berusaha
tetap tersenyum untuk dirinya.
Ehh,, jangan nangis,, malu keliatan yang lain, ntar dikira aku udah nakalin bini orang,,,
Uuugghhh,, sebeeel,, aku kaya gini masih aja diledekin,,, Zahra segera mengusap air matanya.
Tapi tadi aku nakalnya ga sampe kelewatan juga koq,,, ntar aku kalo mo nakal izin sama kamu dulu deeehhh,,
Zahra bingung sendiri, melihat tingkahnya yang seperti anak kecil, anak kecil yang takut dimarahi karena berbuat nakal.
Lhoo,, kenapa malah izin sama aku,,, kan ada suami mu Zaa,,,
nggaak,, aku tegasin,, kalo aku ini juga milikmu,,setidaknya saat liburan ini,, titik!!!, ga usah dibahas lagii,,,
Meski
Bandi tak dapat melihat wajah Zahra yang tersipu malu setelah
mengatakan itu, tapi Bandi tau tidak mudah bagi Zahra untuk
mengungkapkan perasaan itu.
Hahahaaa,,, koq bisa gituu,, beruntung banget aku,, tapi kalo emang punyaku, berarti boleh kunakalin kapan aku mau dong,,,
Zahra
tidak menjawab langsung, namun dari punggungnya Bandi tau wanita cantik
itu mengangguk, lalu terdengar suara lirih dari bibirnya,
Kapanpun Bandi mau,,
Lalu
lengannya memeluk pundak Bandi semakin erat, merasakan bagaimana
dirinya begitu dilindungi, berharap tubuhnya dapat melebur dengan tubuh
lelaki itu.
Bannn,,, Zahra kenapa?,,, Nabila menghampiri Bandi dengan cemas.
Mengagetkan Zahra yang tengah terbuai digendongan.
Koq Bandi ga bilang sih kao udah nyampe, hatinya kesal.
Wanita itu tersipu malu, karena memeluk suami dari sahabatnya itu begitu erat.
Aku ngga apaapa koq,,, cuma kaki kanan ku aja terasa keram,,,
Bandi menurunkan tubuh Zahra diatas sebuah potongan batang pohon kelapa.
Bener ngga apaapa?,,, tanya Nabila, lalu memijat kaki Zahra pelan.
Iya ga apaapa,,, sueerr,, aku juga masih bisa ikut lomba koq,,, Nabila tersenyum mendengar jawaban sahabatnya.
Bagaimana, apa kau bisa menikmati liburan ini?,,,
Mendengar
pertanyaan Nabila itu, Zahra sedikit kaget, apakah wanita di depannya
ini memang sudah mengetahui hubungan terselubung antara dirinya dan
Bandi. Keduanya terdiam sesaat, tidak tau apa lagi yang ingin
dibicarakan untuk sekedar berbasabasi, entah kenapa kedua wanita yang
sebelumnya sangat akrab ini menjadi kaku. Mata mereka tertuju pada sosok
Bandi yang berjalan menjauh, menuju kumpulan para lelaki yang terlihat
sibuk meniup balon.
aku minta maaf,, aku udah cemburu pada mu,,
Eeehh,,
maksudmu?,,, Zahra mulai waswas, mungkinkah Nabila akan menanyakan
langsung tentang sejauh mana hubungannya dengan Bandi, dan membongkarnya
dihadapan umum.
Tapi Nabila justru tersenyum,
Jujur,, aku
tau Bandi suami yang nakal, tapi aku tidak pernah marah, karena aku tau
dia tidak pernah membawa serta perasaannya, dan aku percaya pada
hatinya, Nabila menghela Nafas sesaat, tangannya terus bergerak memijat
kaki Zahra.
Tapi entah kenapa, saat melihat kau dan Bandi bercanda
hatiku terasa sakit,,, Nabila tersenyum kecut, lalu beranjak,duduk
disamping Zahra, memeluk pundak sahabatnya.
Tapi kurasa itu tidak
lebih dari pelarian rasa bersalahku, diliburan ini aku sudah terlalu
nakal, dan lagilagi Bandi bisa memaklumi itu,
hehe,,, aku minta maaf, aku memang punya masa lalu dengan Bandi, dan aku,,,
Hahahaa,,
udah jangan dipikirin,, suamimu Darto udah cerita koq,,, dan aku tidak
keberatan di liburan ini untuk berbagi denganmu,,,
DEGG,,, Zahra keget dengan jawaban Nabila.
Bill,,,
maksudku bukan begitu, lagipula aku tetap merasa ga enak dengan
dirimu,, bukan bermaksud merebut koq,, Zahra merasa bersalah pada
sahabatnya itu.
Ststsss,, udah, udah santai aja ngapa, kalo enak dimasukin, kalo ga enak buang diluar,,, hahaaa,,,
Iiihh,,, koq kamu jadi genit gini sih Bill,,,
Hahahaa,, aku cuma ingin menikmati liburan ku, Say,,
Ayo semua berkumpul,,, kita lanjutin permainan kita,,, Bu Sofie berteriak mengumpulkan pasukan.
Permainan
kali ini sangat mudah, tetap berpasangpasangan, dan penentuan pasangan
masih seperti tadi,,Well,,,untuk menghemat waktu, apa kalian setuju bila
aku yang menentukan pasangan kalian dengan bolabola ini?,
Para
lelaki mengangkat pundaknya, menyerahkan semua keputusan kepada Bu Sofie
yang memang terlihat begitu berkuasa. Darto akhirnya senyum sumringah
kembali menghias bibir para lelaki. Hanif yang kali ini mendapatkan
Anjani dengan cepat merasakan batangnya mengeras, gairahsex.com meski
tidak tau permainan seperti apa yang bakal digelar. Sementara Pak Tama
dengan tangan terbuka menyambut Aida yang berjalan mendekat dengan
malumalu, lalu menyampirkan tangannya di pinggul wanita itu. Rahadi
tersenyum puas saat mendengar Bu Sofie menarik bola dengan warna senada
dengan pita milik Shita. Memorynya dengan cepat mengingatkan lelaki itu
pada permainan lidah sekretaris cantik itu saat memanjakan penisnya.
Darto tertawa girang, mengusapusap batang dibalik celana saat tau
partnernya kali ini adalah Nabila. Dan tingkah Darto itu membuat Nabila
tertawa tergelak.
Emang kamu mau ngapain, ini kan cuma game,,,hahaaahaa,,,
Tapi
di antara mereka Zahra dan Bandi lah yang paling merasa senang, wanita
itu tersenyum mengangkat gelang pitanya saat Bu Sofie mengeluarkan bola
warna hijau.
Okeeey,,, sekarang para wanita silahkan ikut aku,,,
Mang Kholil,,, tolong bawain kain yang tadi ya,,, Bu Sofie meminta
penjaga cottage yang selalu setia mengiringi kemanapun wanita itu pergi,
untuk membawa kain bali dengan corak dan warna yang meriah. Kain yang
sering digunakan para SPG untuk menyembunyikan paha mulus mereka saat
naik kendaraan roda dua.
Kita mau ngapain Bu?,,, tanya Aida yang bingung.
Tapi Bu Sofie hanya tersenyum penuh misteri.
Silahkan masuk bilik ini satu persatu,, ganti rok dan celana kalian dengan kain ini,,,
Ooowwhh,,,
ok,, tidak terlalu buruk, kain ini bahkan lebih panjang dari rok ku,,
heheheee,, tapi permainan apa lagi sih Bu?,, tanya Anjani ikut
penasaran.
Udah,, masuk dulu,,,jangan keluar sebelum aku
menghampiri kalian satu persatu,, teriak Bu Sofie saat para wanita satu
persatu masuk kedalam bilik yang memang biasa digunakan untuk berganti
pakaian.
Wanita yang mampu menjaga tubuhnya agar tetap terlihat
ideal meski sudah dimakan usia itu, menyusul masuk kekamar yang dimasuki
Zahra. Di dalam, Zahra yang tengah melepas celana legginsnya sempat
terkaget saat Bu Sofie memasuki biliknya.
Zahra, lepas celana dalam mu juga ya,,
Hehh,,, maksud ibu?,,,
Pokoknya
lepas aja,,, ucapnya lagi sambil tersenyum, tapi Zahra masih tampak
bingung, terlihat enggan melepas kain kecil yang telah melindungi liang
kemaluannya dari batang ganas Pak Tama.
Ayolaaahh,, lepas aja,,,
aku sudah berusaha menyediakan waktu untuk kalian, dan aku sudah
berusaha memasangkan dirimu dengan Bandi, meski suamiku sempat ngotot
untuk dapat berpasangan dengan mu lagi,,,
Jadi undian bola tadi memang sudah ibu atur?,,, Bu Sofie mengangguk pasti, menjawab pertanyaan Zahra.
Tapi kepala wanita itu kembali menyembul dari balik pintu untuk sekedar menegaskan.
Inget
ya,, kain kecil yang penuh dengan sperma suamiku itu lepas aja,,,punya
mu emang lebih cocok buat Bandi, tapi jangan dihabisin, soalnya aku juga
pengen nyicipin,,,hihihi,,,
Ada apa ini sebenarnya,,, Zahra tersandar lemas didinding bilik.
Ternyata
game ini memang sudah direncanakan oleh Bu Sofie, dan parahnya lagi,
darimana wanita itu tau tentang cairan yang membasahi celana dalamnya
adalah milik suaminya, Pak Tama.
Di bilik sebelah, bu Sofie
kembali memaparkan intruksi yang sama, entah apa yang tengah direncakan
oleh wanita itu. Zahra keluar dari bilik, disusul para istri lainnya.
Mata mereka saling pandang, masingmasing tau dibalik kain yang mereka
kenakan tak ada kain segitiga yang melindungi alat kelamin mereka. Semua
membisu, cukup saling tau dengan kondisi masingmasing, dengan jantung
berdegup kencang berjalan mengiringi Bu Sofie yang bersenandung riang
menuju arena permainan.
Oke guyss,,, permainnanya adalah, kalian
harus menggendong pasangan kalian, sambil menggiring balon yang kalian
miliki menuju garis finish,, mengerti?,,,
Maksud ibu gendong didepan?,, tanya Nabila raguragu.
Yaaa, gendong di depan, seperti monyet menggendong anaknya,,, bisa kan?,,
Bu
Sofie memperagakan sambil merentangkan kedua tangannya memeluk leher
Mang Kholil, kemudian meloncat dengan kaki menjepit pinggul Mang Kholil
dengan cueknya.
Sudah paham?,,,
Para suami mengangguk cepat
sambil tertawa, sementara para istri menampilkan wajah pucat, memaksakan
untuk menganggukkan kepala mereka.
Bu Aidaa,, maaf yaa,,aku
pinjam suami ibu dulu,, ucap Anjani, dirinya bisa merasakan permainan
ini akan menjadi lebih gila dari sebelumnya.
Eeehh,, iya gapapa,,, kamu yang hatihati ya, jangan sampai jatuh, jawab Aida raguragu, berusaha mengajak bercanda.
Ayolaaahh,,,
nikmati permainan ini, aku sudah merelakan mobil kesayanganku bagi
siapapun yang menang dari kalian, Rupanya Bu Sofie gregetan dengan
tingkah para istri yang malumalu seperti kucing, yang berusaha
menyembunyikan kebinalan mereka dari para suami.
Oke bersiap,,, semua wanita silahkan naik ke kuda pacuannya,,,
Bu Sofie memberi abaaba, penggunaan istilah kuda pacuan membuat para lelaki tertawa.
Deegg,,
jantung Zahra tercekat saat membuka pahanya untuk menjepit pinggang
Bandi, kain yang mereka kenakan terlalu pendek, meski tubuh bagian bawah
dan belakang mereka tetap terlindung, tapi dibagian depan selangkangan
mereka yang telanjang bertemu langsung dengan tubuh pasangan mereka.
Dengan cepat Zahra menoleh ke Nabila, rupanya sahabatnya itu juga tengah
kebingungan, berusaha menutupi selangkangan dengan kain, meski itu
siasia.
Zaa,,, daleman kamu mana?,, bisik Bandi saat menyadari
wanita yang tengah menjepit pinggulnya dengan erat itu tak mengenakan
sehelain kain pun.
Iyaaa,, tadi Bu Sofie yang suruh lepas,, dan
aku ga tau kalo game nya bakal seperti ini,,, Zahra pucat, entah kenapa
dirinya takut bila Bandi marah. Pasti lelaki itu tidak tau jika itu
memang skenario Bu Sofie.
Dan benar dugaan Zahra, wajah Bandi tampak sedikit emosi,
Gila,,,
bagaimana seandainya jika kamu berpasangan dengan yang lain, dengan
kemaluan terbuka seperti ini?,,, suara Bandi meninggi. kisah Sex
Iyaaa,, aku minta maaf udah nurutin kemauan aneh Bu Sofie,, tapi bukankah sekarang aku denganmu,,
Tunggu,,tunggu,,,apa Nabila dan wanita lainnya juga tidak mengenakan celana seperti ini?,,,
Zahra
mengangguk pelan, tak berani menatap Bandi. Keributan tidak hanya
terjadi pada Bandi dan Zahra, tapi juga pasangan lainnya. Hanif yang
merasa mendapat durian runtuh langsung merengek pada Anjani untuk
memasukkan batang penisnya ke vagina mungil Anjani. Alasan Hanif,
bukankah mereka sudah pernah melakukan, tapi dibawah tatapan cemburu
Rahadi, gadis itu menggeleng tegas.
Ayolah Ann,,, apa kamu tidak kangen ama batangku,,, dijamin kali ini pasti lebih lama deh,,,
jangan,,
ada mas Rahadi, ntar dia marah,, Hanif tertawa mendengar jawaban
Anjani, sedikit lampu hijau, artinya saat lomba nanti dirinya dapat
dengan bebas memasuki liang mungil itu tanpa sepengatahuan Rahadi.
Sementara
di samping mereka Rahadi berusaha menyembunyikan hasratnya untuk
menusuk vagina Shita. Rahadi menahan bukan karena tak ingin, tapi karena
memikirkan kondisi vagina Anjani yang pastinya kini tengah mengangkangi
batang Hanif. Rasa cemburunya semakain besar saat melihat gerakan
tangan Hanif yang bergerak, menggeser celana agar batangnya dapat
keluar.
Berbeda lagi dengan Bu Aida yang terlihat gemetar, Pak
Tama yang tidak pernah menunda setiap kesenangan yang dihidangkan dengan
cepat menggoda vagina Aida dengan gesekangesekan lembut. Aida kini
merasakan dirinya begitu binal, batang milik Pak Tama adalah batang
terakhir yang belum merasakan jepitan vaginanya.
Koq sudah basah
banget Bu?,,, tanya Pak Tama, kedua tangannya memeluk pantat Aida,
selain untuk menahan tubuh wanita itu, tapi juga untuk memudahkan
batangnya yang bergerak menggoda.
Okey,,, sudah siap?,,,
perhatikan balon di hadapan kalian, dan ingat kalian harus menggiring
balon yang sudah diisi air itu ke garis finish,,, mengerti?,,,
Siaaap,,,
tapi kalo seperti ini aku lebih memilih untuk kalah aja deh,,
haahhhaha,,, Hanif tertawa, sambil menepuknepuk pantat Anjani, dan
ulahnya itu membuat Rahadi meradang.
Diii,,, jangan pikirkan
istrimu,, di kantor kamu sering menggoda ingin kencan denganku, dan
kurasa ini lebih dari itu,, apakah aku lebih jelek dari istrimu,, ucap
Shita, membisiki telinga Rahadi dengan cara yang sangat menggoda.
Rahadi tertawa, matanya beralih ke payudara Shita yang kini berada di depannya.
Ayolah buat game ini semakin panas,,,
Kini giliran Shita yang tertawa, tau apa yang dimaksud oleh Rahadi.
Liat saja nanti,, bisik Shita tak kalah panas, tak lagi peduli dengan Pak Tama yang kini juga terlihat bahagia dengan Aida.
1,,, 2,,, 3!!!,,, Goooo Bu Sofie berteriak memberi abaaba penuh semangat.
Kaki
para lelaki dengan cepat berusaha menendang balon yang bergerak liar
tertiup angin, air yang ada di dalam balon tidak cukup berat untuk
menahan hempasan angin. Bu Sofie tertawa, meski para lelaki terlihat
serius melakoni lomba, wanita itu dapat melihat, bagaimana Rahadi
menghentak batangnya ke liang kemaluan Shita, tepat saat abaaba Goo
berkumandang. Begitupun dengan suaminya, Pak Tama yang memaksa Aida
untuk menurunkan tubuhnya, dan menerima batang besarnya di liang
vaginanya yang sudah sangat basah.
Ooowwgghhhh,, Paaakk,,, Aida
melenguh, akhirnya batang terakhir itu memasuki tubuhnya. Tangannya
berpegangan erat berusaha agar tidak terjatuh saat pak Tama setengah
berlari mengejar balonnya yang tertiup angin cukup kencang.
Ugghhh,,
apa lagi sih yang kalian tunggu,,, tinggal masukin aja koq susah
bener,,, Bu Sofie menggerutu melihat pasangan Bandi dan Zahra yang
berlari sangat pelan.
Tubuh Zahra tampak sesekali menggeliat saat batang Bandi yang masih tersimpan di balik celana menyentuh bibir vaginanya.
Bannn,,,
aku ga kuaaat kalo seperti iniii,, Zahra merintih pilu di telinga
Bandi, berusaha bertahan, sudah berkalikali tubuhnya menerima rangsangan
hebat, dari pak Tama dan Hanif.
Sementara Nabila yang berada
tidak jauh di depan mereka menatap wajah suaminya yang menahan birahi,
tak berbeda dengan dirinya yang berusaha menahan laju batang Darto yang
berusaha menyelusup masuk.
Masss,,, bibir Nabila terbuka, seolah
meminta izin untuk menerima batang milik Darto kedalam tubuhnya. Sangat
sulit baginya untuk terus bertahan.
Tapi di mata Bandi, istrinya
justru terlihat seperti tengah mendesah. Pikiran negatif menyeruak di
hati lelaki itu. Mungkinkah Darto sudah berhasil menyetubuhi istrinya.
Tapi diamnya Bandi, layaknya membiarkan istrinya berselingkuh langsung
di depan matanya, tapi ini adalah game, game yang sangat panas, sangat
sulit bagi para wanita untuk bertahan dari rangsangan para lelaki.
Maaf Masss,, aku udah ga tahaaan,,
Tubuh
Bandi menggigil, saat Nabila menutup mata, tubuh nya beringsut turun,
menyesuaikan posisi liang vaginanya dengan batang Darto yang tegak
mengacung ke atas, lalu menyelusup cepat kedalam liang yang sempit.
Bandi dapat melihat, saat bibir sensual istrinya terbuka melenguh pelan,
ketika tubuh indah itu bergerak naik turun tak teratur, bukan karena
gerakan Darto yang tengah berlari mengontrol arah balon, tapi karena
ulahnya sendiri yang berusaha mengejar kenikmatan didepan suaminya. Mata
Nabila terbuka, menatap sendu, memberi pesan tentang kenikmatan yang
tengah dirasakan oleh vaginanya.
Dartooo,,, kamu ngentotiiinn aku di depaaann Bannnddii, gilaaa,, tapi nikmaaat banget,, pinggul Nabila bergerak semakin cepat.
Apa
kamu ingin kita menjauh lebih ke depan,,,agar bisa lebih bebas
menikmati batangku,, tanya Darto yang mulai kewalahan, menyetubuhi
wanita yang sedang digendong, sambil mengejar balon bukan perkara yang
mudah.
Tidaaakk,, tetaaap seperti iniii,,, aku benarbenar
menikmati iniii,,, uuugghhhhh,, Dartooo,,, aku merasa batangmu semakin
besar di vaginakuuu,,, Nabila tidak lagi bergerak naik turun, tapi
pinggulnya bergerak maju mundur sangat cepat.
ooo,,, aku keluaaaarrr,,, bibir Nabila terbuka mendesah lepas, pantatnya bergetar menjepit erat pinggul Darto.
Ooowwhhhhsss,,
Tooo,, batangmu keras bangeeett,,, tempek ku mpe klengeeerrrsss,,,
Nabila seakan tak rela nikmatnya orgasme berlalu begitu cepat. Sensasi
dipuaskan oleh batang milik lelaki lain tepat di depan suaminya menjadi
rangsangan tersendiri baginya.
Nabill aku juga mau keluaaarr,,
terus empot seperti tadiii,, enak bangeeet,,, Darto mulai kewalahan,
langkahnya tak lagi teratur.
Zaa,,,, mereka sudah
melakukaannyaaa,,, ucap Bandi pada Zahra yang tengah terengahengah
merasakan gesekan batang Bandi yang masih terbalut celana.
Tibatiba
langkah Darto terhenti tepat di depan mereka. Nafas lelaki itu
mendengus liar, kedua tangannya mencengkram erat pantat Nabila,
menghentak maju mundur mengejar orgasmenya sendiri. Sementara Nabila tak
kalah liarnya, berusaha menekan batang Darto jauh ke dalam kemaluannya,
pantatnya bergerak maju mundur dengan ritme yang kacau.
Maaasss
Dartooo,, seru Zahra pelan, saat kedua pasangan itu bersisian, dan saat
itu jualah sperma Darto menghambur, memenuhi rahim Nabila yang juga
tengah merintih menyambut orgasmenya yang kedua.
Dan semangat
rintihan Nabila tak lepas dari tatapan Bandi yang langkahnya sempat
terhenti tepat di samping mereka. Bandi tau vagina istrinya tengah
menerima transfer sperma milik Darto, sebanyak apapun cairan yang
keluar, liang kemaluan istrinya itu tetap pasrah menerima.
Bannn,,,
wajah Zahra yang terkejut dengan aksi Darto dan Nabila kini menatap
Bandi, memberi isyarat bahwa dirinyapun ingin merasakan kenikmatan yang
baru saja diterima Nabila.
Ingin sekali Zahra berteriak bahwa
vaginanya juga sudah tak tahan, ingin merasakan batang penis yang
memenuhi liang kemaluannya. Gayung bersambut, tangan Bandi menyusur ke
bawah, menarik turun celananya. Kini kendali sepenuhnya ditangan Zahra,
bibir vaginanya dapat merasakan gesekan dari helm kemaluan Bandi.
Bandi dan Zahra saling tatap,
Zaa,,, bolehhh?,,, tanya Bandi terengahengah di antara langkahnya yang semakin pelan.
Zahra
mengangguk, meski dirinya selalu berharap Bandi menyetubuhinya dalam
suasana yang romantis, tapi saat ini kondisi benarbenar memaksa tubuhnya
untuk turut merasakan kenikmatan liar yang diciptakan oleh Bu Sofie.
Dengan jantung dag dig dug berdenyut cepat, Zahra menurunkan pantat
mulusnya. Bibir vaginanya mencaricari ujung dari batang milik Bandi.
Bannn,,, aku izin yaaa mau nakaaal,,, kalimat yang keluar dari bibir tipis itu membuat Bandi benerbener gemas.
Tapi
bila waniita itu mengira vaginanya yang sudah sangat basah dan terbuka
lebar, akan dengan mudah menerima batang Bandi, itu adalah salah. Vagina
Zahra yang memang memiliki pintu masuk yang mungil, tampak kerepotan
untuk menelan helm dengan ukuran big size milik Bandi.
Kegedeaaann,,
ga bisa masuuuk,,, Zahra menggelenggelengkan kepala, tapi pinggulnya
terus bergerak mencoba mencari posisi yang lebih pas untuk sebuah
penetrasi darurat.
Bannn,,, ayooo dong,, jangan malah
diketawain,,, dari balik jilbabnya bibir tipisnya merengek seperti anak
kecil, vaginanya terasa sangat gatal, tak pernah dirinya begitu ingin
disetubuhi seperti saat ini.cerita dewasa
Wooyyy,,, Bandii,,
perhatiin dong balon kamu larinya kemana!!!,,, seru Bu Sofie,
mengagetkan Bandi dan Zahra, saat menyadari balon mereka tak ada lagi di
depan, sontak keduanya tertawa terpingkal.
Suara Bu Sofie seakan
menyadarkan mereka yang begitu asik dengan dunia mereka berdua. Mata
Zahra kembali mengawasi suaminya Darto, yang masih berada di belakang
mereka, dan untuk kesekian kalinya mengayunkan pantat Nabila untuk
menerima hujaman batangnya. Mata dengan bulu yang lentik itu beralih
pada Bu Sofie yang terlihat begitu kelelahan, dengan sisa tenaganya
berpegangan erat di leher Pak Tama. Tubuhnya bergerak mengikuti setiap
gerakan pejantan yang tengah menggendongnya, Tampak begitu pasrah
menerima setiap hujaman batang besar Pak Tama. Lain lagi halnya dengan
Rahadi dan Hanif yang berlari beriringan, aroma persaingan tampak jelas
terlihat. Hanif begitu puas bisa mempencundangi Rahadi dengan memberikan
orgasme pada istrinya Anjani yang tidak berkutik di hadapan suaminya.
Sementara bagi Rahadi sendiri, ingin sekali menunjukkan bahwa dirinya
masih lebih hebat dengan menghantar Shita pada orgasme yang sangat liar.
Bannn,,, masukin yuuuk,,, ga ada yang ngeliat kita koq,,,mereka semua sibuk sendiri koq,,,
Zahra
kembali merengek, ingin sekali menghentak pantatnya, dan melumat batang
Bandi dengan paksa, tapi wanita itu seperti masi ragu untuk kenakalan
yang lebih jauh.
Zaa,,, bener kamu ingin sekarang,,, tidak ingin menunggu nanti malam,,,
Zahra bingung, lalu akhirnya menjawab sambil berbisik, seolah takut terdengar oleh lainnya,
Aku pengen sekarang,,,tapiii,, jangan sampai mereka tauu,,
Bandi
tersenyum, Tangan nya segera menggenggam batang, dan mengarahkan tepat
ke vagina Zahra. Menyeruak pelan, lalu perlahan membelah tubuh wanita
cantik itu.
Bannn,, ooowwwhhhh,, masuuuk,,,sedikit lagiii,,, masuuuk,,,
Mulut Zahra terbuka lebar, matanya terpejam saat batang Bandi perlahan menerobos masuk.
Sangat mudah, tidak sesulit usahanya tadi,
Aku tau kamu tadi masih ragu, ucap Bandi disela Nafas Zahra yang tercekat.
Kini
tubuhnya telah menerima batang milik lelaki lain, perlahan terus
menyelusup masuk kebagian terdalam tubuhnya, seiring luluhnya segala
digdaya kesempurnaan dirinya sebagai istri yang setia.
Bannn,,
seperti inikah rasa nikmat dari kejantanan mu,, vaginanya masih berusaha
memasukkan batang Bandi lebih dalam, meresapi rasa nikmat yang
dikumandangkan oleh liang kemaluannya yang menjepit erat.
Bannn,,,Ooowwhhhh,,, penuuuhhh bangeeet,,, pinggulnya mulai bergerak pelan, mencaricari sensasi nyata yang disuguhkan.
Sementara Bandi seakan tak percaya, akhirnya berhasil menyetubuhi wanita yang bertahuntahun menjadi fantasi liar nya.
Zaae,,, aku goyang yaaa,,,
Mata
Zahra terbuka, mengangguk pelan, berusaha melebarkan selangkangannya
dengan mata mencoba mengintip ke bawah, tempat dua alat senggama mereka
bertemu.
Bannn,,, batangmu ooowwwssshh,,, jangan terlaluuu cepaaaat,,, Arrgghhhhh,,,aku bisaaa keluaaaarr,,,
Mata
Zahra nanar menatap batang Bandi yang bergerak cepat keluar masuk
lubang kawinnya. batang pertama selain milik suaminya yang berhasil
mengobokobok lorong sempit yang selama ini dijaganya dalam biduk
kesetiaan.
Bandii,,, aku keluaaaarrr,,,Adduuuuhhh Bannn,, aku
pipisss,,,Aaaggghhh,,, Kaki Zahra berusaha memiting pinggul Bandi,
memaksa batang itu masuk jauh lebih dalam. Tubuhnya bergetar, menggeliat
liar.
Zaa,,, kau memaaang indaaahh,, Zaa,,, batang penis Bandi
serasa semakin membesar, lelaki itu tidak sanggup lagi bertahan saat
wajah cantik di depannya melepas orgasme sambil menatapnya penuh
kenikmatan.
Bandi,,, kamu maauu keluaaaarr?,,, cabuuut Bannn,, aku sedaaang subuuuur,,, aku bisa hamil Bannn,,,
Mendengar
katakata Zahra, Bandi justru semakin berNafsu, mencengkram erat pantat
Zahra, memaksa batangnya tetap bersemayam dibagian paling dalam,
merasakan hisapan vagina Zahra yang masih dilanda orgasme. Siasia bagi
Zahra berusaha melepas batang Bandi dari vaginanya, karena saat ini
kemaluannya juga tengah menagih hal yang sama.
Zaa,, aku
keluaaarrr,, aku keluar dirahim mu sayaaang,,,oowgghhhh,,, batang Bandi
berkedut, lalu menghambur bermilimili sperma, menghentak dinding rahim
Zahra dengan deras.
Ooowwhhhh,, Bandii,,,keluarkaaan sayaaaang,,,
keluar semuaaa dirahimkuuu,,, Zahra menatap wajah Bandi yang orgasme
dengan rasa bahagia di hati. Membiarkan lelaki itu menikmati setiap
detik kenikmatan yang diberikan oleh alat senggamanya.
Kembali
menjepit pinggul Bandi, memaksa otot vaginanya memijat batang Bandi,
seakan berusaha menguras seluruh isi kantong sperma, dan menerima semua
peralihan cairan itu kedalam tubuhnya.
Bann,,, sperma mu banyak bangeeet,, kamu bisa menghamiliku,,, bisik Zahra.
Whoooo,,,
Plok,,Plok,,Plok,, Plok,,Plok,,Plok,, tepuk tangan dan sorak terdengar
riuh, mengagetkan Bandi dan Zahra. Tanpa mereka sadari semua mata
menatap ke arah mereka. Wajah Zahra memerah seperti udang rebus, turun
dari tubuh Bandi dengan terhuyung, kakinya begitu lemas, tak bertenaga.
Duduk dulu sayaang,, kau terlihat sangat kelelahan,, sambut Nabila, wajahnya tersenyum menahan tawa.
Maaf bill,, maaf banget, aku minjam suamimu ga bilangbilang,,,
Ststsss,, udah jangan ributin itu,,, jawab Nabila, merapikan kain yang menutupi tubuh bagian bawah Zahra yang hampir terlepas.
Hey,,
Pak Tama, ngapain ngintipngintip, ga boleh tau,, sana gih,, haahahaa,,
Nabila mengusir Pak Tama yang berusaha mengintip selangkangan Zahra.
Tampak sperma milik Bandi perlahan mengalir keluar dari celah sempit
itu.
Gilaaa,, sepertinya orgasmemu tadi dahsyat bener Bann,,, seru Hanif, sambil terus bertepuk tangan.
Asseeeem,,,
sejak kapan kalian nonton,, akkhh,, taik kau Nif,,, lombanya siapa yang
menang,,, Bandi berusaha mengalihkan obrolan.
ngga ada yang
menang,,, liat aja balon kalian ngumpul di pantai semua
tuh,,,hahaahaa,,, seru Bu Sofie disambut gelak tawa yang lainnya.
Okeeey,,,
masih ada waktu setengah hari untuk kita beristirahat, karena nanti
malam kita akan mengadakan sedikit pesta perpisahan. Pak Tama kembali
mengambil alih komando.
Ada beberapa kabar, entah ini baik atau
buruk untuk kalian, tergantung kalian menyikapi kabar ini, lebih
jelasnya kita bicarakan nanti malam saja, Oke??,,,
Wajah beberapa orang menjadi tegang, penasaran dengan kabar yang baru diterima Pak Tama.
Tisuenya
udah abis berapa pack pemirsa setia? Hehelanjut lagi di episode
selanjutnya ya. yang pasti bikin tambah greget hheerrrrr.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar