Agen Casino Slot - Cerita Sex Surakarta Deket Kartasura - Kota Solo, memang kota yang sangat menggoda buat ku. Aku bahkan
memendam keinginan tinggal di Solo daripada di Jakarta. Kota ini rasanya
bisa menentramkan hatiku, dan yang lebih menarik lagi adalah putri Solo
itu lho.
Itulah kekagumanku buat kota Solo. Ini adalah
perjalananku untuk kesekian kalinya ke Kota Solo. Namun kali ini bukan
dalam rangka tugas atau bisnis, tapi hanya alas an yang sangat
sederhana, mau pijat saja.
Agen Casino Slot - Jangan salah duga dulu, aku bukan
mencari pemijat wanita, tetapi pemijat pria. Dia adalah Pak Min pemijat
yang cukup kondang di Solo. Tapi aku ingin juga agak berlamalama di Solo
untuk sekedar refreshing. Kalau berasalan di rumah banyak hal bisa
didalihkan, bisnislah, tugaslah, ya macammacamlah.
Aku sebelumnya
sempat diperkenalkan kepada Pak Min, ahli memijat oleh saudaraku di
Jogya. Sebulan lalu aku mencoba kemampuan Pak Min. Aku menginap di hotel
dan Pak Min segera ku kontak. Pijatannya memang luar biasa, sakit,
tetapi rematikku di bahu beberapa hari kemudian memang terasa berkurang
sakitnya. Katanya aku perlu sekitar 4 kali dipijat, baru rematikku bisa
sembuh.
Di usia kepala 5 memang mulai banyak gangguan kesehatan, dan ketangguhan agak berkurang.
Untuk
alasan pijat itulah aku kembali ke Solo. Kali ini aku mencari hotel
dengan kamar yang luas, katakanlah setingkat suite room. Setelah urusan
pijat pada siang hari, aku tertidur sampai menjelang sore.
Perutku
mulai terasa lapar, aku kurang suka dengan makanan hotel. Dengan baju
santai aku jalan ke depan hotel. Beberapa tukan becak mendekatiku dan
menawarkan jalanjalan keliling kota. Kupilih tukang becak yang cukup tua
dan kelihatannya ramah. Meski umurnya sekitar 40 an, tetapi tenaganya
masih kuat. Aku lalu minta dia mengantarkan ke satu alamat warung soto,
salah satu kesukaanku di Solo.
Warung itu terkenal, sehingga
tukang becak yang belakangan kuketahui namanya Paino segera
mempersilakan aku duduk di becaknya. Dia dalam perjalanan menawarkan aku
untuk menyewanya pulang pergi. Aku menyetujui saja.
Ketika sampai
ke warung soto, Pak Paino kuajak makan sekalian, tetapi dia kelihatan
segan dan agak malu. Setelah kupaksa, akhirnya dia mau juga ikut makan
soto bersamaku. Kebiasaan ku memang begitu. Apalah artinya biaya
menraktir seporsi soto. Aku kan kemudian bisa mengorek informasi lebih
banyak, serta lebih memahami pribadi si Paino.
Pulangnya Paino mulai melancarkan serangan khas tukang becak Solo. Pak apa perlu dicarikan teman, apa gimana ?? katanya.
Bapak tau tempatnya, apa ? tanyaku.
Wah tukang becak hotel, pasti tau Pak, ada penampungan, ada yang
rumahan, ada yang tukang pijet, tinggal bapak mau yang maaa..na ??
katanya dengan logat Jawa yang kental..
Punya koleksi STW, ? tanyaku.
STW ada ABG juga ada, katanya.
Ah saya lagi pengen yang STW, tapi bukan yang pasaran, ada nggak, tanyaku.
Ada pak, dia malah belum pernah ke hotel, janda dekat gang rumah saya, kata Paino.
Orangnya gimana, tanyaku.
Ya kalau menurut saya sih lumayan, janda belum punya anak. Dia pernah
ngomong ke saya kalau ada kerjaan mijet tamu hotel, katanya dia mau.
Orang nggak punya pak. Kalau bapak mau lihat dulu, monggo saya antarkan,
katanya.
Setelah berbicara agak panjang dan mengatur strategi, akhirnya aku setuju melihat, tetangga si Paino.
Aku
minum es kelapa muda dan si janda itu purapura beli rinso di warung
sebelah. Dia memandangku dan aku pun sempat mencermati dirinya.
Wah lumayan juga, agak gemuk, tampang khas Jawa. Dan mukanya cukup manis.
Setelah dia berlalu aku kembali ke becak, dan aku langsung setuju agar Paino membawanya ke hotel.
Padahal
aku baru di pjat oleh Pak Min. Pemijat profesional ini bukan
sembarangan, untuk memastikan keberadaannya aku harus telepon jauhjauh
hari. Langganannya banyak dan sering ke luar kota dan keluar negeri.
Banyak pengusaha dan petinggi yang jadi pelanggannya.
Nah aku
habis dipijat Pak Min, malah pengin dipijat lagi. Masalahnya pijatan Pak
Min tadi sakit. Aku sekarang ingin pijatan yang nyaman.
Sekitar
satu jam aku menunggu di kamar hotel sampai ketiduran. Aku terkesiap
ketika pintu kamarku diketok. Pak Min dan janda itu berada di depan
pintu. Pak Min kuselipin limpulRp, dan pemijatnya kusilakan masuk.
Namanya
Ningrum, Dia duduk di kursi dengan menundukkan kepala. Mungkin ini
adalah job yang pertamanya, sehingga dia rikuh berada di kamar hotel
bersamaku. Kutawari minum, untuk mencairkan suasana, tapi dia menolak.
Aku
merokok sebentar sambil membuka obrolan. Ningrum jadi janda karena
suaminya kawin lagi setelah tidak puas karena Ningrum tidak bisa punya
anak. Dia hidup dengan bekerja sebagai buruh cuci. Rumahnya adalah kamar
kontrakan yang dibayar bulanan. Dia tinggal bersama keponakannya
perempuan yang baru datang dari kampung ingin cari kerja di Solo.
Sudah pernah mijet mbak, tanyaku.
Kalau di hotel, belum, tapi mijet suami dulu sering, katanya tertahan karena malu.
Dari
obrolan itu, suasananya mulai cair. Aku membuka baju hingga tinggal
celana dalam dan tidur telungkup. Mbak Ningrum mulai melancarkan pijatan
dimulai dari kaki. Tekanan pijatannya masih kurang nyaman, mungkin
karena dia belum mahir.
Akhirnya aku bangkit dan berusaha
mengajarkan cara pijatan yang kusukai. Untuk itu Mbak Ningrum kuminta
tidur telungkup. Mulanya dia menolak. Mungkin malu bercampur sungkan,
tetapi setelah aku membujuk dan setengah paksa, akhirnya dia pasrah.
Repotnya dia mengenakan kain kebaya dan jarik, jadi agak susah.
Di
kamar hotel untungnya ada disediakan kimono, Mbak Ningrum lalu kuminta
melepas bajunya di kamar mandi dan menggantinya mengenakan kimono.
Mulanya dia agak malu, tetapi setelah kubujukbujuk dia akhirnya mau
juga. Sebelumnya aku ikut masuk ke kamar mandi menjelaskan penggunaan
kran2 di kamar mandi.
Paling tidak kalau dia kebelet pipis tidak perlu ditahan lamalama, karena bingung cara penggunaan kran air panas, air dingin.
Setelah kamar mandi kututup, tidak lama kemudian terdengar air toilet menggelontor. Ternyata dia memang kebelet pipis.
Mbak Ningrum keluar dengan kimono. Dia agak malumalu, meskipun seluruh
tubuhnya tertutup rapat. Aku kembali memintanya telungkup dan kuajarkan
pijatan dengan tekanantekanan di sekitar kakiku.
Setelah dia
paham, aku kembali dipijatnya. Pijatannya mulai terasa nyaman dengan
tekanantekanan yang kuinginkan. Mbak Ningrum agak nekat juga, dia belum
begitu paham memijat, tetapi sudah berani terima orderan pijat. Mungkin
karena desakan ekonomi akhirnya dia terpaksa melakukan pekerjaan ini.
Menurut Mbak Ningrum, Painolah yang punya ide agar Mbak Ningrum mencari
tambahan jadi pemijat di hotel. Kata Paino, sekali mijat bisa dapat 100
sampai 150ribu perak. Jumlah itu bagi Ningrum adalah jumlah yang luar
biasa, karena dia kerja sebulan paling hanya dapat 400 ribu.
Lha kalau semalam dapat orderan dua kali, ya udah banyak sekali, katanya.
Obrolan
mereka soal ide Paino itu baru 2 hari lalu. Mbak Ningrum ternyata doyan
ngobrol setelah suasananya cair. Aku yang sebenarnya ingin tidur sambil
dipijat jadi terpaksa menimpali omongannya.
Mbak Ningrum jadi akrab, banyak hal diungkapkannya termasuk kehidupannya ketika masih punya suami dulu.
Tapi
masalahnya sebagai tukang pijat pengetahuannya masih boleh dibilang
Nol. Aku terpaksa jadi instruktur. Untuk babak mengurut dengan lumuran
cream aku minta Mbak tidur telungkup dan aku mengajarinya bagaimana
melakukan pengurutan. Kali ini dia tidak lagi canggung. Wah aku tugase
mijet malah dipijet, katanya.
Awalnya aku mengurut bagian telapak
kaki, kiri dan kanan, lalu betis kiri dan kanan. Sampai urusan ngurut
betis, kimono mulai tersingkap sampai lutut.
Lutut bagian belakang
adalah salah satu titik sensitif wanita. Aku melakukan sentuhan dan
urutan khusus di daerah ini. Aku memang rada jahil, tapi ingin tahu juga
apakah Mbak Ningrum terpengaruh dengan sentuhan ku. Terus terang dari
tadi aku sudah berfikir untuk menggumuli Ningrum, tapi aku ingin melalui
proses yang alami.
Ningrum mengaku pijatanku itu enak dan
kadangkadang bikin kemrenyeng. Bisa jadi dia merasa geli atau juga
terangsang. Aku tidak minta penegasan apa arti kemrenyeng .
Giliran
berikutnya adalah mengurut bagian paha. Sengaja aku tidak menyingkap
kimononya, tetapi tanganku menerobos melumasi dan mengurut pahanya. Paha
si Ningrum ini terasa tegap. Ini adalah model paha wanita yang aku
senangi. Bagian dalam paha wanita adalah bagian yang juga menimbulkan
rangsangan. Aku berkalikali mengurut bagian itu sampai dekat sekali
dengan bagian kemaluannya.
Gerakanku mengurut itu menyebabkan
kimononya makin tersingkap ke atas sehingga celana dalam Ningrum
kelihatan. Dia tidak peduli. Malah kadangkadang beringsut merasakan
urutanku yang mendekati bagian kemaluannya. Tanganku kemudian beringsut
masuk ke balik celana dalamnya dan mengurut gumpalan bokongnya yang
besar. Terlihat benar, jika Ningrum sudah terangsang. Dia tidak
menyadari bahwa dia mulai mendesis sesekali. Bagian gumpalan pantat
adalah bagian yang sensitif, dan aku agak lama menekannekan bagian itu,
sampai dia bergelinjang.
Gerakan urutanku mulai nakal karena
jempol kiri dan kananku mulai menerobos belahan pantatnya sampai dekat
dengan kemaluannya. Jempolku sudah merasakan bulubulu kemaluannya. Tapi
Ningrum tidak perduli. Gerakan jempolku naik dan turun melalui belahan
pantatnya semakin membuat Ningrum melayang.
Aduh Pak saya nggak tahan lamalama, rasanya jadi nggak karuan, kata Ningrum setengah terengah.
Tahan dulu biar ngajarinya nggak sepotongsepotong, saya tuntaskan dulu, kataku.
Bagian
punggung adalah bab berikutnya. Kimono, ketika kuminta dibuka, Ningrum
tidak terlalu mempertahankan, meski dia mengatakan malu. Tapi dengan
alasan mengurut punggung, maka dia menyerah membuka kimono sambil tetap
tiduran.
Kimono sudah terbuka dan Ningrum tidur telungkup dengan
celana dalam dan BH. Meskipun dia STW tetapi tubuhnya masih berpotongan
gitar. Pinggangnya kecil, bokongnya gede, dan susunya juga gemuk.
Mulanya
aku mengurut punggungnya dengan membiarkan BHnya tetap terpasang. Namun
setelah beberapa saat aku buka kaitan BHnya agar aku lebih leluasa
mengurutnya dia tidak protes, alias diam saja.
Ningrum memuji urut
ku benarbenar nikmat. Aku mulai mengurut bagian samping badannya
sehingga sesekali menyentuh pinggir payudaranya. Bagian ini juga adalah
titik sensitif perempuan.
Aku memintanya berbalik, sehingga
telentang. Dia malu, tapi tali BHnya tidak dia pasangkan, kecuali
mempertahankan BHnya menutupi payudaranya yang meluber.
Aku cuek dan purapura tidak memperhatikan. Padahal aku terkesan tetaknya besar sekali.
Aku
mulai lagi dari kaki lagi, tetapi hanya sebentar lalu pindah kebagian
paha. Aku kembali mengurut paha bagian dalam, dan kali ini jempolku
sudah sampai menyentuh bulu kemaluannya yang terasa agak jarang.
Tanganku
menyuruk ke balik celananya dan memijat bagian atas kemaluannya lalu
jempolku kiri dan kanan turun sampai menekan gundukan kemaluannya
kebawah.
Ningrum terlihat sudah sangat terangsang sehingga tidak peduli lagi dan rasa malunya sudah sirna.
Jempolku
memang belum masuk ke liang memeknya, tetapi sudah menyentuh
clitorisnya. Setiap sentuhan halus si clitorisnya dia menggelinjang.
Berkalikali aku lakukan sampai akhirnya tanpa izinnya aku peloroti
celananya. Ningrum malah membantu dengan mengangkat pinggulnya.
Di
depanku terpampang jelas kemaluan Ningrum yang ditumbuhi jembut yang
jarang tetapi bentuknya gemuk. Kata orang Jawa, mentul. Aku kembali
melakukan urutan di sekitar kemaluannya. Ningrum menggelinjanggelinjang
setiap kali clitorisnya tersentuh.
Aku tinggalkan bagian kemaluan
lalu naik ke perut dengan gerakan halus aku mengusap perutnya. Bagian
ini tidak terlalu aku tekan dan tidak lama juga aku melakukannya.
Pijatan naik ke atas dan aku mulai menjangkau bagian dada. Aku sengaja
mengurut bagian pinggir payudaranya dengan gerakan memutar. Akibatnya
BHnya tidak lagi menutupi kedua gundukan daging itu. Pentil Ningrum
tidak terlalu besar. Mungkin karena dia belum pernah hamil, apalagi
menyusui.
BHnya aku singkirkan dan Ningrum tidak protes. Setelah
kedua payudaranya terpampang bebas aku melakukan pijatan memutar, dengan
diakhiri oleh usapan telunjukku memutar di puting susunya.
Ningrum
sudah tidak karuan. Dia sudah sangat terangsang. Dia lupa bahwa
seharusnya dia mengingat semua gerakan pijatanku. Dia malah menikmati
pijatanku.
Setelah kurasa cukup aku kembali memijat daerah sekitar
kemaluannya. Dimulai dari bagian pinggir akhirnya telunjukku
mengusapusap clitorisnya. Ningrum menggelinjang dan mendesisdesis.
Kelihatannya dia semakin hot.
Pelanpelan jari tengahku menerobos
masuk ke dalam lubang memeknya. Jariku mencari wilayah Gspot, sampai
kutemukan bagian jaringan lembut di dalam dinding atas memeknya.
Kuusapusap bagian itu dengan gerakan halus. Ningrum sesekali mengaduh
keenakan. Aku memperkirakan dia sudah hampir mencapai orgasmenya.
Kumasukkan jari tengah dan jari manisku. Aku mengambil posisi bersimpuh
di sisi kirinya. Dengan gerakan tibatiba aku melakukan gerakan
mengangkat tubuh Ningrum berstumpu kedua jariku di lubang memeknya .
Kuangkat berkalikali sampai tubuhnya terangkat sedikit, tetapi dampaknya
Ningrum sudah seperti orang kesetanan, mendesis, mengaduh dan kadang
berteriak lirih.
Tidak sampai 3 menit gerakan itu aku lakukan
Ningrum mulai mencapai titik orgasme ditandai dengan teriakan yang
tertahan. Tepat pada saat dia mencapai orgasme aku menghentikan gerakan
dan dengan tangan yang satu berusaha menyibak kedua bibir kemaluannya.
Dari lubang kencingnya muncrat cairan agak kental, seperti layaknya
ejakulasi pada pria.
Setelah ejakulasinya reda mbak Ningrum
mengatakan bahwa seumur hidup dia belum pernah merasakan kenikmatan
seperti ini. Badannya dirasakannya lemas dan tulangtulang rasanya mau
copot, dia merasa lelah sekali dan ngantuk.
Seharusnya setelah
mendapat pelajaran memijat dia ganti akan memijatku, tetapi sekarang
sudah tertidur mendengkur halus. Aku menutup badannya yang telanjang
bulat dengan selimut. Aku ikut tidur di sebelahnya dalam satu selimut.
Entah
berapa lama aku tertidur. Mbak Ningrum kelihatannya masih pulas. Kamar
terasa gelap. Aku meraih tombol lampu dan sekaligus remote TV. Aku duduk
bersandar di tempat tidur sambil menonton TV.
Mendengar suara TV
mbak Ningrum terbangun. Ia melihat sekeliling. Terlihat dia seperti
mengingatingat sesuatu. Ternyata dia bingung ketika bangun sedang berada
dimana. Akhirnya dia melihatku dan ingatannya pulih bahwa dia baru
tertidur di kamar hotel mewah.
Mas aku tadi di apake, kok iso lemes tenan lan enak banget, katanya.
Aku hanya menjawab bahwa tadi adalah pelajaran pijat komplit. Mbak Ningrum merasa badannya sudah segar.
Saya menawarkan dia agar menginap saja malam ini di hotel. Besok pulangnya akan saya sangoni sejuta.
Ah
mas aku jadi malu, nggak usah dibayarpun aku mau tidur ama mas,
orangnya baik. Aku cuma kepikiran si Tika, dia sendirian, tapi udahlah
dia tadi tau kok aku kerja, kata mbak Ningrum.
Ningrum lalu memelukku dan kepalanya di letakkan di atas dadaku. Aku dianggapnya seperti suaminya.
Ruangan hotel terasa sangat dingin. Remote AC kuraih untuk mematikan AC, paling tidak mengurangi dingin.
Mas aku kebelet pipis, tapi aku malu gak pake baju, kata Ningrum.
Malu sama sapa, dari tadi aku sudah liat kamu telanjang, kan ndak ada orang lain, kataku.
Tapi jangan diketawai ya mas badanku gemuk, katanya sambil menyibakkan selimut lalu berjalan terburuburu ke kamar mandi.
Aku dengar dia menggelontorkan wc dan terdengar juga suara shower.
Aku
berdiri menuju meja untuk membuat air panas guna membuat kopi.
Kebetulan Ningrum keluar, dia sekalian aku ajarkan cara memasak air
dengan ceret listrik guna membuat kopi.
Sudah mas sini saya saja yang buat kopinya, katanya.
Aku
duduk sambil menghirup kopi dan merokok. Ningrum bermanja dengan ku.
Dia duduk dipangkuanku. Aku masih mengenakan celana dalam sedang Ningrum
telanjang bulat dipangkuanku.
Aku memeluknya dari belakang dan
meremasremas teteknya, Telapak tanganku tidak muat menutup semua
teteknya. Ningrum meski miskin dia beruntung memiliki body yang bagus.
Pantatnya besar menyembul kebelakang dan memiliki pinggang yang agak
ramping serta perutnya tidak membuncit.
Wajahnya lumayan manis. Mungkin karena kurang perawatan keayuannya sangat bersahaja.
Ayo mas sekarang saya pijat, saya sudah seger dan masih ingat pelajarannya tadi, katanya.
Aku
segera bangkit dan langsung tengkurap. Ningrum menjalankan tugasnya.
Kini pijatannya sudah nikmat. Dia memahami bagianbagian mana yang terasa
enak dipijat.
Wis celananya dicopot aja mas, biar kita samasama telanjang, adil to, katanya sambil meloloskan celana dalamku.
Aku
benarbenar menikmati pijatannya, kecuali bagian yang sakit bekas
dipijat Pak Min tadi siang. Ningrum kuminta bagian yang sedang njarem
untuk tidak disentuh.
Dia pandai pula memainkan jarinya mengurutku
mulai dari kaki sampai ke pundak. Sensasi dipijat perempuan telanjang
adalah ketika dia menduduki tubuhku terasa rambut kemaluannya
menggerusgerus di punggung.
Giliran disuruh telentang, tak ayal lagi k0ntolku langsung tegak bebas.
Wah mas itunya udah ngaceng ya, katanya sambil meraih k0ntolku.
Dia
pandai pula memijat dan berlamalama di bagian kemaluanku. Aku merasa
sudah terbang dengan kenikmatan sentuhannya. Tidak aku sangka dia
memainkan lidahnya menjilati k0ntol dan buah zakarku. Sesekali
dikulumnya batang k0ntolku lalu disedotnya. Rasanya air maniku seperti
akan dipaksa keluar.
Mas boleh nggak aku masuki ke tempik ku, tanyanya.
Aku hanya mengangguk saja.
Ningrum
mengatur posisi diatas tubuhku dan perlahanlahan dibenamkannya k0ntolku
ke dalam mekinya. Setelah terbenam semua dia berhenti sebentar, lalu
dia melakukan kontraksi. K0ntolku terasa seperti dipijat oleh memek
Ningrum. Dia melakukannya berkalikali menambah kenikmatan di sekujur
k0ntolku.
Ningrum kemudian melakukan gerakan memutar, sehingga
k0ntolku seperti mengaduk memeknya dan aku merasa k0ntolku seperti
diremasremas.
Sepertinya aku tidak akan mampu bertahan jika dia terus melakukan gerakan itu. Badannya kutarik sehingga dia menindihku.
Pada
posisi itu dia kelihatannya mengatur posisi agar clitorisnya tersentuh
oleh jembutku lalu dia menekan dan menggesekkan dengan gerakan penuh
perasaan. Ningrum lalu mendesisdesis. Aku melihat situasi itu makin
terangsang dan rasanya sebentar lagi laharku akan keluar. Ningrum makin
menekankan clitorisnya ke tubuhku dan gerakannya agak cepat . Aku pun
menikmatinya dan sudah tidak tertahankan lagi kulepas beban lahar yang
sudah mendesak. Kutembakkan spermaku ke dalam memek Ningrum. Mungkin
siraman panas spermaku membuat dia ikut mencapai orgasme., sehingga
memeknya berkedutkedut dan dia mendekapku erat sekali.
Agak lama
Ningrum menindih tubuhku sampai seluruh orgasmenya tuntas. Pelanpelan
diangkatnya tubuhnya sambil tanggannya menjaga agar maniku tidak tumpah.
Dia lalu buruburu berjalan ke kamar mandi sambil mengepit tangannya di
kemaluan.
Aku tergeletak lemas. Ningrum keluar dari kamar mandi
dengan handuk lembab di tangannya. K0ntol dan sekitar kemaluanku
dibersihkannya dengan handuk kecil yang lembab dan hangat.
Kami
istirahat sebentar. Aku lalu merasa ingin berendam di bathtub dengan air
hangat. Ningrum kuajari membersihkan bathtub. Bathtub di kamar suit
hotel ini tidak berbentuk memanjang, tetapi segitiga seperti bak jacuzi .
Ningrum mengerti cara mengatur air panas.
Sementara dia mempersiapkan air mandi aku menelpon room service untuk memesan dua porsi nasi goreng.
Nikmat sekali rasanya berendam air hangat di bak. Inginnya berlamalama. Apalagi berendam berdua dengan Ningrum yang montok.
Tengah
kami berendam, bel pintu berbunyi, menandakan pesanan nasi gorengku
sudah datang. Dengan berbalut kimono aku membuka pintu dan menyelesaikan
urusan orderku itu.
Aku kembali berendam. Mungkin karena terendam
air hangat, k0ntolku kembali memuai. Apalagi Ningrum bersandar ke
badanku sehingga bokongnya menyentuh k0ntolku. Aku meremasremas teteknya
yang kenyal dan gede sekali. Kami saling menyabuni, K0ntolku semakin
mengeras karena Ningrum mengocok dan melumuri sabun di k0ntolku. Tapi
dia tidak menuntaskannya. Setelah bilas, k0ntolku masih terus menegang.
Kami
mentas dan belum mengeringkan badan dengan handuk Ningrum kupeluk dari
belakang. K0ntolku kutusuk ke bagian pantatnya . Ningrum kuarahkan
membungkuk sambil berpegangan meja toilet, lalu kutusuk k0ntolku dari
belakang. Permainan begini sebenarnya kurang nyaman bagi k0ntolku,
karena penetrasinya kurang maksimal. Gumpalan daging di bokongnya agak
menghalangi penetrasi lebih jauh. Jadi sensasinya saja yang kunikmati.
Belum sampai 5 menit aku mulai merasa lelah. Ningrum kuputar dan kutarik
duduk diatas pangkuanku. Aku duduk di toilet bowl yang tertutup.
Ningrum mengangkang duduk dipangkuanku dengan posisi berhadapan.
K0ntolku plug and play di memeknya. Ningrum memutarmutar pinggulnya
sehingga k0ntolku serasa diremasremas. cerita sex
Aku tidak bisa
memperkirakan berapa lama kami bermain dengan posisi itu. Karena aku
asyik menyedot susu Ningrum yang terpampang di depanku. Kurasakan
Ningrum menemukan posisi yang membuat rangsangan di memeknya maksimal
sehingga dia mulai mendesisdesis lagi. Sementara aku agak merasa kebal,
karena sudah sekali orgasme. Gerakan Ningrum makin liar, lalu tibatiba
dia mendekapku erat sekali dan lubang memeknya berdenyutdenyut.
Kami
mencuci kemaluan dengan sabun, sementara k0ntolku masih terus tegak.
Tanpa mengeringkan dengan handuk badan kami sudah kering. Aku membimbing
Ningrum ke Tempat tidur. Aku ciumi kedua payudaranya lalu pelanpelan
turun ke bawah, sampai akhirnya aku menjilati sekitar kemaluannya.
Mulanya Ningrum mencegah karena katanya jijik. Ningrum belum pernah di
oral suaminya, sehingga dia belum punya pengalaman. Aku tetap bertahan
sampai lidahku menyentuh sekitar clitorisnya. Ningrum menggeliat dan
akhirnya tangan yang tadinya berusaha mencegah kepalaku mendekati memek
sudah melemas.
Ningrum mulai menikmati jilatanku di sekitar
clitorisnya. Dia mulai mendesahdesah dan aku memfokuskan jilatan ke
seputar kepala clitorisnya. Pinggulnya mulai bergerak mengikuti gejolak
nafsunya. Aku terpaksa menahan gerakan itu dengan kedua tanganku memeluk
kedua pahanya yang besar. Gerakan itu menyulitkan jilatanku terfokus.
Aku sekarang menyerang langsung ujung clitoris yang terasa menonjol.
Ningrum belingsatan dan tak lama kemudian dia mencapai orgasme.
Sementara orgasme. Lidahku kutekan ke clitorisnya. Clitorisnya ikut berdenyutdenyut seperti k0ntol pria.
Wajah
puas tergambar di wajah Ningrum. Aku meneruskan aksiku mencolokkan
kedua jariku kedalam memek. Aku mulai melakukan aksi mengangkat badan
Ningrum dengan kedua jariku dengan ritme cepat. Ningrum melolonglolong
karna kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Mungkin belum sampai satu
menit dia sudah menjerit mencapai orgasme Kembali kutekan seluruh
permukaan kemaluannya sampai denyutan orgasmenya tuntas.
Jeda
sekitar satu menit aku kembali melakukan aksi merangsang Gspot dengan
aksi kedua jariku kedlam memeknya. Ningrum mendesisdesis sambil sesekali
meneriakkan ampun karena badannya lemas sekali. Tapi aku tidak perduli
dan aksi kuteruskan. Ningrum makin cepat mencapai orgasme lagi. Begitu
berkalikali aku lakukan sehingga Ningrum mencapai multi orgasme
berkalikali. Mungkin dia sudah mencapai 10 kali orgasme melalui kukerjai
seperti itu. Aku lalu mencoba memasukkan k0ntolku ke memeknya. Rasa
memeknya menjepit sekali. Aku sejak lama menandai, jika wanita usai
orgasme, memeknya terasa nikmat sekali jika ditusuk k0ntol.
Aku
berusaha berkonsentrasi menggenjot Ningrum. Mungkin karena efek multi
orgasme tadi, Ningrum kembali mendapat orgasmenya, sementara aku masih
setengah jalan. Jadi meski dia berteriakteriak minta ampun dan minta aku
berhenti sebentar, tapi tetap aku genjot. Keganasan itu rupanya membuat
Ningrum menjadi lebih cepat mendapat orgasme lagi. Akupun mencapai
orgasme dan ejakulasiku. Kubenamkan dalamdalam k0ntol sehingga kami
samasama terkulai.
Spermaku tidak banyak keluar, sehingga tidak
sampai tumpah keluar.liang memek. Aku segera ke kamar mandi membersihkan
k0ntolku dan berkumur, lalu membawa handuk lembab untuk membersihkan
kemaluan Ningrum yang banjir.
Ruang terasa panas, karena tadi AC
kumatikan . Aku menghidupkan AC dan Ningrum yang sudah pasrah
kuselimuti. Aku pun ikut menyelinap di bawah selimut. Kami terlelap.
Aku
terbangun karena sinar matahari mulai menembus tirai dan juga kebelet
pipis. Usai melepaskan hajat kecilku Ningrum mengikuti pipis juga di
kamar mandi.
Badanku terasa lelah sekali dan tidak seperti
biasanya, jika pagi k0ntolku bangun, tapi kali ini dia tetap loyo. Aku
berpikir, mungkin karena semalam sudah terlalu banyak tugas, sehingga
dia sekarang malas bangun.
Aku tidur tengkurap dan kuminta Ningrum
yang sudah segar untuk memijatku. Pijatan pagipagi gini nikmatnya luat
biasa. Apalagi yang dipijat dan yang memijat samasama bugil. Aku dan
Ningrum main satu ronde lagi setelah akhirnya k0ntolku bangun karena
dirangsang Ningrum.
Kami Mandi bersama dan kulihat jam sudah menunjukkan 10 pagi. Sarapan di restoran hotel tentunya sudah tutup.
Aku
mengeluarkan uang di dompetku 10 lembar uang ratusan dan kuserahkan ke
Ningrum. Dia mulanya malumalu menerima, tapi akhirnya dimasukkan juga
uang itu ke dalam dompet di tasnya, sambil berkalikali mengucapkan
terima kasih.
Sebelum pamit pulang Ningrum kuminta untuk
menemaniku lagi malam nanti. Dia sempat mencatat no HP ku. Lalu kuantar
turun menemui Paino untuk pulang ke rumah.
Aku kembali ke kamar meneruskan tidur sebentar. Tapi mata susah terpejam, karena perut lapar.
Aku
turun dan di depan hotel kulihat Paino sudah stand by di situ. Aku
langsung duduk di becaknya dan aku minta dia mengantar ke soto Triwindu.
Paino banyak bercerita, tentang cerita si Ningrum, Kata Ningrum menurut
Paino aku baik sekali dan duitnya banyak.
Aku jadi teringat
cerita film Pretty Woman, aku jadi seperti orang yang diperankan Richard
Gere, tapi pasanganku bukan ABG melainkan STW.
Selepas makan aku
minta diantar Paino ke Grand Mall. Suasana di Grand Mall, tidak jauh
berbeda dengan mall di Jakarta. Baik model pengunjungnya maupun
situasinya. Lelah berkeliling tanpa tujuan, akhirnya aku ngopi. Di
tengah lagi asyik mengepul, HP ku berdering, No lokal yang tidak aku
kenal.
Ternyata Ningrum yang menelepon. Dia bertanya aku sedang
dimana. Kujelaskan posisiku, dia katanya mau menyusul. Aku menunggunya
sekitar setengah jam sampai melihat Ningrum bergandengan dengan seorang
ABG, keduanya tampil agak modis juga sesuai dengan orangorang di mall.
Ini mas keponakanku, dia katanya pengin ikut ke mall, kata Ningrum memperkenalkan Tika.
Tika
cukup manis, badannya cukup berisi, kulitnya agak gelap. Umurnya
kutaksir sekitar 19 tahun dan rambutnya sebahu lebat dan lurus. Anak ini
jika dirawat, bisa kelihatan lebih cantik. Apalagi bakalannya sudah
memadai, seperti pantatnya yang padat mirip budenya, pahanya yang padat
berisi dibungkus celana jeans. Susunya lumayan besar juga untuk anak
seumuran dia. Sayangnya kulitnya agak gelap jadi masih terlihat ada
kesan ndesonya.
Kami mengobrol sebentar, dan Tika ternyata bukan
tipe pemalu. Dia malah minta aku mencarikan pekerjaan.Dia baru lulus SMA
di kampungnya dan ke Solo mau cari kerja.
Kenapa gak cari pacar dulu, baru cari kerja, godaku.
Ah cari pacar lebih gampang oom dari pada cari kerja, katanya.
Aku jadi tergoda untuk mendandani si Tika menjadi agak modis.
Mau ngga oom beliin baju, kataku menggoda.
Mau dong, jawabnya cepat.
Kami
lalu beranjak dari cafe menuju salah satu departemen store. Aku
memberinya jatah sejuta untuk dibelanjakan semaunya. Uangnya aku
genggamkan ke Tika.
Aku juga mau dong mas, sambung si Ningrum. Dia kuberi lagi sejuta.
Mereka
berdua berpisah dariku. Hampir satu jam kemudian mereka berdua
menghampiriku. Bajunya langsung ganti yang baru. Baju yang lama mereka
bungkus.
Oom uangnya masih sisa 200, mau aku beliin HP, gak papa ya, katanya.
Kami
lalu naik ke lantai yang banyak terdapat toko HP. Kami berhenti di
salah satu toko yang kelihatannya cukup lengkap koleksi HPnya. Tika
bingung menghadapi begitu banyak macam, sementara Ningrum diam saja.
Mungkin dia lebih bingung lagi jika disuruh memilih. Aku lalu minta
SPGnya untuk menunjukkan HP Nokia yang featurenya cukup lengkap dengan
MP3, Radio, kamera 2 M. SPGnya lalu menyodorkan HP warna pink, kalau
nggak salah ingat tipenya supernova. Tika berbisik bahwa harganya mahal.
Dia lalu kubisik bahwa aku yang bayar, sisa 200 tadi kusuruh dia simpan
saja.
Aku minta SPG nya membuka segel kotaknya. Model HPnya
memang ABG banget. Dari modelnya Tika sudah merasa sreg banget. Alagi
dia tahu bahwa bisa nyimpan lagulagu, dengerin radio dan ada kameranya
aku minta sekalian dilengkapi memory cardnya kapasitas 2 GB. Ningrum
kupilihkan tipe yang lebih sederhana, karena aku yakin dia tidak
memerlukan MP3, Radio, kamera. Bagi dia HP cukup yang bisa SMS dan
nelpon. Sekalian aku belikan kartunya Simpati agar kalau dikampungnya
masih ada signal. Si Paino aku belikankan lagi HP Nokia yang lebih murah
lagi, lengkap dengan kartunya dan langsung dihidupkan. Ketiga nomor
mereka segera aku simpan di HPku.
Perut sudah mulai lapar lagi,
kami meninggalkan toko HP dan berjalan mencari restoran di Mall. Tika
jadi kelihatan manja kepadaku di jalan sambil merangkul tanganku,
sehingga susunya menempel di lenganku. Kami terlihat seperti suami istri
dan seorang anak.
Setelah kenyang aku bayar ke kasir. Tika dan
Ningrum katanya kebelet pipis. Setelah mereka melepaskan hajatnya,
Ningrum menarikku, dia berbisik bahwa Tika mau ikut menginap di hotel,
karena katanya dia pingin ngrasai tidur di hotel. Mereka dari mall mau
pulang dulu lalu nanti Paino yang diminta menjemput mereka.
Aku
langsung menuju hotel dengan sebelumnya menyerahkan HP ke Paino. Si
Paino bukan main girangnya mempunyai HP baru. Katanya dia sudah lama
mengidamidamkan punya HP agar langganannya bisa mengontak.
Sesampai di Hotel aku minta Paino menjemput Ningrum.
Di
kamar aku berpikir, bagaimana dengan kehadiran Tika, keintimanku dengan
Ningrum pasti terganggu. Padahal aku berencana membenamkan diri bersama
Ningrum 2 malam lagi.
Tidak ada ide dan aku akhirnya pasarah dengan bagaimana nanti saja.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar